Menyapa Rembulan Merah

Kerinduan yang tercurahkan di Malam Gerhana


Lama tak menyapa rembulan. Malamku banyak kuhabiskan di balik atap rumah. Hanyut dalam lelahnya jiwa setelah melalui naik turunnya waktu. Larut dalam rebahnya tubuh yang menuntut untuk rehat penuh dari padatnya hari. Mulai dari senja, aku sudah mendekap di ruang nyamanku. Menghibur diri dengan guliran konten yang tak berkesudahan. Jeda ketika panggilan untuk sujud berkumandang. Malamku cukup menenangkan. Tak jarang selepas Isya sudah lelap masuk ke alam mimpi yang bebas. Dan ketika membuka mata, sudah berganti nama hari. Tanggal sudah berganti angka. Dan jarum jam setia berjalan sesuai ritmenya, tak cepat dan tak lambat. Waktu selalu patuh untuk terus melaju tak peduli aku tersadar atau terlelap. 

Dalam dekapan malam, aku menyadari kerinduanku. Aku rindu menyapa rembulan. Tapi kemalasan sungguh menyeretku untuk tetap tak beranjak dari nyamannya tempat tidur dan asyiknya menggulir layar ponsel. Aku terus membenarkan kemalasan ini karena lelah. Memang lelah. Namun aku tahu aku masih bisa menyapa rembulan di luar sana. Sesederhana tersenyum padanya. Seperti yang sudah-sudah, selama awan tak menghalangi pandangan mata. 

Aku bangkit dan membuka selebar-lebarnya pintu rumah. Aku melangkah keluar setelah mega merah tak menyemburat lagi. Aku duduk di teras depan sambil mendongak mencari di posisi mana ia sekarang. Belum genap pertengahan bulan, tapi keindahan bentuk dan terang cahayanya sudah tampak mengagumkan. Aku persembahkan senyum manisku saat aku berhasil memandangnya. Dan membisik dalam hati, aku akan menyapamu lagi di momen langkamu, di malam di mana kamu menerima cahaya berbeda dari biasanya. 

Aku melamun sambil memandanginya. Gema sholawat yang terdengar keras dari speaker musala, refleks kuikuti lantunan baitnya. Marhaban ya Marhaban, ya Nur al-Aini... 

Aku berhenti, aku menyadari bahwa aku harus kembali masuk rumah untuk bersujud pada sang Pencipta alam semesta dan memuji kekasih Allah yang pernah membelah rembulan. 

Malam berikutnya, selepas maghrib tepat pertengahan bulan. Tepat purnama, aku menyusuri jalan dengan berjalan kaki di bawah siraman cahaya rembulan di atas sana. Aku riang menyapanya lagi. Aku bersenandung sambil menunduk ke tanah agar tak tersandung dan sesekali mendongak untuk memastikan ia tetap tampak dalam pandangan mata. 

Selesai urusan, aku kembali pulang. Kembali pada ruang nyamanku. Kembali merehatkan jiwa dan raga dalam pelukan diri. Sebelum pindah ke alam mimpi, aku berdoa supaya dibangunkan tengah malam untuk kembali bersua dengan rembulan. Dan, aku terbangun pada pukul 1 lewat 20 menit. Tanpa pikir panjang aku beranjak dari tempat tidur dan membuka perlahan pintu rumah. Duduk di teras depan sambil mendongak. Awalnya aku tak begitu melihat cahaya apapun kecuali satu dua bintang, aku coba membersihkan lensa kacamataku. Dan sekian menit, awan menyibak cahaya merah dengan nuansa gelap yang menyelimuti. Cahaya merah yang tak terang, namun cantik. Cahaya merah yang tak menyilaukan. Cahaya merah dalam tenang dan diamnya malam. Aku tersenyum dan menyapanya dengan pujian terhadap Tuhan. Aku bercakap-cakap dengan diri bahwa semoga suatu saat nanti aku tak duduk sendiri lagi menikmati keelokan rupamu, wahai rembulan. 

Waktu terus bergerak, jarum jam terdengar keras dari biasanya. Sesekali suara cicitan burung terdengar lebih keras dari dentuman jarum jam. Warna merah perlahan bergeser dan berganti cahaya terang purnamanya. Aku masih mencurahkan rindu dengan mengamatinya. Dan di tengah itu aku menyadari satu hal, ia tampak indah bukan hanya saat puncak gerhananya, tapi juga saat beralih perlahan demi perlahan kembali menampakkan terang cahaya purnamanya. Ouh, itu bagian perjalanan semesta.


Ya, ia berproses. Ia berprogres. Ia berubah. Dan akan terus berubah. Namun ia tetap ada sampai batas ruang dan waktu yang telah ditentukan.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia