Sedekah dan Perayaan Maulid Nabi

Sedekah dan Perayaan Maulid Nabi



Dalam tahun Hijriyah, bulan ini adalah bulan Rabiul Awal. Atau istilah lain versi orang Jawa adalah bulan Mulud yang berasal dari kata Maulud atau Maulid, yaitu bulan kelahiran Nabi Muhammad Saw. Di lingkunganku setiap bulan Mulud datang, gema sholawat lebih banyak terdengar di mana-mana. Di masjid atau musala-musala, pengajian ibu-ibu, sekolah, bahkan playlist sendiri. Eh, tak bulan Mulud pun, sudah banyak gema sholawat. Dan aku bersyukur bisa mendengar sholawat setiap hari. Itu membuatku juga terdorong untuk ikut melantunkannya setiap hari.

Ada beragam cara merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Meskipun sampai saat ini masih ada yang membahas tentang merayakan Maulid Nabi termasuk bid’ah. Aku tak akan membahas tentang itu. Tapi aku baru saja membaca postingan tentang sejarah perayaan Maulid Nabi di Instagram, dan itu menambah wawasanku.

Beberapa hari yang lalu, di sekolah saya mengadakan acara peringatan Maulid Nabi. Acaranya membaca sholawat Barzanji dan Diba’ bersama, dan penampilan drama tentang sejarah hari kelahiran Nabi Muhammad Saw. oleh murid-murid. Saat acara itu, guru dan murid juga membawa makanan kemudian dikumpulkan jadi satu dan saling berbagi saat istirahat untuk makan bersama.

Saat jam istirahat, ada salah satu teman guru yang membawa banyak makanan. Dia mempersilahkan guru-guru untuk mengambil dan menikmatinya. Saya pun turut mengambilnya. Saya akui temanku itu jago memasak. Makanan yang dibuatnya selalu enak dan lezat. Hampir semua temanku yang lain pun memujinya. Dia juga bilang, bahwa akan memasak makanan yang lezat lain untuk perayaan Maulid Nabi di masjid tempat ia tinggal. Saya tersenyum namun juga menyimpan tanya padanya.

Saat acara selesai dan murid-murid pulang. Saya dan temanku itu duduk berdua sambil ngobrol. Di tengah obrolan dia juga menceritakan bahwa dia juga harus berusaha kerja sampingan untuk menambah biaya hidup, apalagi sekarang dia memiliki tiga anak. Kemudian saya tidak bisa menahan pertanyaan yang saya simpan dalam kepala. Saya menanyakan padanya tentang bagaimana ia bisa membuat makanan begitu banyaknya untuk dibagi saat acara perayaan Maulid Nabi. Padahal, ia pernah cerita jika biaya hidup keluarganya pas-pasan. Sedangkan untuk membuat makanan yang banyak tentu pengeluaran juga tak sedikit. Apa tidak eman?

Ia tersenyum padaku sebelum menjawabnya. Kemudian ia menyampaikan padaku, “untuk suguhan perayaan Maulid kanjeng Nabi kok eman. Justru karena merayakan hari lahirnya kanjeng Nabi sebisa mungkin sedekahnya yang terbaik. Soal pengeluaran pasti tak sedikit tapi sudah saya dan suami perhitungkan sebelumnya. Dan kalau cuman dihitung matematika kita ya minus, tapi dilalah ya ada saja rezeki lain datang. Toh, sedekah juga pada akhirnya kembali ke diri kita.”

Ouh, ketika saya mendengar jawabannya, saya langsung terenyuh. Saya juga jadi teringat ketika membaca tulisan penulis Riza Umami tentang “Tak Perlu Menunggu Kaya Raya untuk Bersedekah”, di antara tulisannya;

“Bersedekah sebenarnya tidak membutuhkan uang yang banyak, tapi memerlukan kemauan diri sendiri untuk berbagi kepada orang lain.”

“Percaya atau tidak, bersedekah tidak akan membuat hidup jadi miskin. Orang yang suka bersedekah, rezekinya justru semakin lancar.”

Saya jadi berefleksi diri setelah mendengar jawaban dari temanku itu dan membaca tulisan penulis Riza Umami tentang pengalamannya bersedekah. Saya paham dan menyadari bahwa ada banyak cara untuk bersedekah, dan itu bukan soal sedikit dan banyak, tapi selalu kembali ke hati. Sedekah selalu tentang setulus dan seikhlas apa kita memberi dan berbagi. Tapi sebagai manusia dewasa ini, kadang saya masih maju mundur ketika ingin bersedekah. Seperti saat akan membawa makanan apa di acara perayaan Maulid Nabi ini, masih ada pikiran kalau sedikit kayak kurang pantas, kalau banyak nanti khawatir bengkak pengeluaran. Namun pada akhirnya aku tetap bertanya ke hati, seberapa tulus diri ini ingin berbagi. Dan, sudah sepatutnya sebagai muslim memberikan yang terbaik dari hati untuk utusan Allah, manusia mulia pembawa cahaya Islam di bumi ini, kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Terakhir, saya ingin mengutip salah satu hadis tentang keutamaan sedekah yang pernah saya baca, yang artinya;

“Sedekah itu tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliannya. Dan tidak ada orang yang merendahkan diri karena Allah, melainkan akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim No 2588). 

Ya, sedekah justru bisa menjadi sebab pertolongan Allah dan datangnya rezeki. Apalagi bersedekah di momen-momen mulia seperti Maulid Nabi Muhammad Saw.

Wallahu A'lam. Allahumma Sholli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammad. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia