air mata bening



Air Mata Bening
Oleh : S_R
ketika kilauan cahaya matahari menembus sela-sela susunan kayu rumah mbah Sarmi. Api kecil yang nyala di atas teplok pun mati. Ternyata sinar matahari tidak hanya menembus dinding kayunya saja, tapi juga sela-sela genteng.  Bukan sela-sela lagi tepatnya, tapi  dari lubang genteng yang sudah kelihatan rapuh. Dan itu membuat rumah mbah Sarmi yang kecil dan amat sederhana terang. Mbah Sarmi sudah bangun jauh sebelum fajar menyongsong. Di pagi hari itu tubuh ringkihnya bangkit untuk jalani aktivitas kesehariannya. Tak begitu berarti apa yang dilakukan mbah Sarmi, hanya mengumpulkan kayu bakar yang dipungutnya dari hutan dekat rumahnya. Dulu, ketika mbah Sarmi masih muda, mbah Sarmi sudah membantu ibunya mengumpulkan kayu bakar. Ketika itu kayu bakar yang sudah dikumpulkan kemudian  dijual ke pasar, Karena masih banyak warga yang membutuhkan kayu bakar untuk mamasak. Penyusuran waktu yang kian lama dan jauh, membuat warga tak menghiraukan lagi kayu bakar. Kini, kayu bakar hanya sebuah sejarah bagi mereka. Tapi tidak untuk mbah Sarmi. Mbah sarmi tetap membutuhkan kayu bakar, meski tidak untuk dijual lagi. Namun dengan berkembangnya zaman, hati mbah Sarmi semakin sedih. Hutan yang dulu melimpahkan kayu, yang dulu dengan mudahnya mbah Sarmi dan ibunya mengambil kayu bakar dari hutan, kini tak seperti itu lagi. Masa kini, mbah Sarmi hanya bisa memungut sedikit kayu yang ada di hutan untuk memenuhi kebutuhan tungkunya. Bagaimana tidak? Hutan lebat yang dulu di sekitar rumah mbah Sarmi kini sebagian sudah tersulap menjadi bangunan bertembok dan berwarna. Mbah Sarmi yang menyaksikan perubahan zaman ini memang tak bisa berbuat apa-apa. Tak ada yang bisa dilakukan oleh seorang yang sudah tua renta dan lemah itu. Sesekali mbah Sarmi menitikkan air matanya mengingat masa lalunya. Namun dia sadar, inilah hidup yang terus menyuguhkan perubahan. Ya, dunia akan selalu berubah peradaban meski perputarannya sama sejak masa diciptakannya sampai sekarang ini.
Mbah Sarmi, begitulah panggilan nenek tua yang sekarang hidup sebatang kara di dunia dengan rumah gedek yang kecil dan amat sederhana. Nenek? Padahal mbah Sarmi tak memiliki cucu. Apakah bisa disebut nenek? Hemm begitulah sebutan seorang perempuan yang sudah tua. Umur yang kini menginjak kepala Sembilan itu, semakin hari tubuhnya semakin lemah.  Dia tak bisa lagi bekerja. Kalaupun bekerja, apa yang bisa dia kerjakan?? Tak ada. Hanya memungut kayu bakarlah yag dia bisa kerjakan meski memaksa tubuhnya. Dia masih begitu senang melakukan hobi itu. Tapi suatu ketika dia bosan dengan apa yang dia lakukan karena tak ada bahan yang bisa ditaruh di atas tungku. Ya, kalau sudah seperti itu, yang bisa dilakukannya adalah tidur-tiduran sepanjang hari sampai ada tangan yang menghampirinya untuk memberikan sesuap bahan. Tak ada yang disesalinya, tapi entah kenapa kadang dia menitikkan air mata beningnya. Ah, pilu rasanya melihat pemandangan itu.
Tak ada penyakit yang berbahaya dalam tubuhnya. Tapi seperti orang-orang tua yang sudah lanjut usia, sakit-sakitan tak bisa dihindarinya. Rematik, punggung sakit, kepala sering pusing, dan lain-lain. kesembuhannya  tergantung pada para tangan yang bersedia memberi obat-obatan. Tapi kadang keadaannya yang seperti itu sembuh dengan sendirinya. Karena dia tak bekerja, maka tak ada penghasilan yang berarti dalam hidupnya. Baginya, uang adalah sebuah hiasan kantong hidupnya. Hanya hiasan bukan kebutuhan. Mempertahankan kenyang sampai tiga hari itu sudah biasa ia lakukan. Meski terkadang lambungnya protes, yang bisa ia lakukan adalah menghiburnya dengan beberapa teguk air. Ya, itu sudah cukup baginya. Tak ada yang ia sesali, tapi lagi-lagi air mata bening itu menitik. Apalagi di lima waktu yang ia sangat menjaganya. Dalam waktu itu, tak jarang ketika wajahnya menghadap ke tanah air mata mengalir begitu saja membasahi kain putih lusuhnya. Ah, pemandangan yang begitu menyayat hati dan meremas jiwa. Satu kebiasaan lagi yang tidak semua orang tahu apa yang dilakukan ketika malam mencapai sepertiga di dalam rumah gedek mbah Sarmi. Ya, orang tua itu selalu berlomba membuka mata sayunya dengan fajar. Sampai saat ini, dia yang selalu menang. Dia selalu berhasil membuka matanya sebelum fajar tiba. Pernah sesekali dia kalah, dan apa yang ia rasakan? Ia malu pada fajar yang selalu ia kalahkan. Dan saat itu pula bibirnya tak henti berkomat kamit istighfar. Ia selalu menundukkan kepalanya dan menghadapkan wajahnya kepada dzat yang menciptakan tanah. Ya, itulah mengapa tak ada yang ia sesali dalam hidupnya dan terus menitikkan air mata beningnya. Mengapa bening?? Ah, air mata mana yang tak bening jika untuk dititikkan dalam balutan penyerahan diri seorang hamba pada Rabb-nya.
Dalam masa-masanya, hanya beberapa pasang mata yang membuka untuk memandang wajah dan pintu rumah mbah Sarmi. Rezeki itu pasti datangnya. Ketika rezeki berpihak pada tubuh ringkih mbah Sarmi. Maka uluran-uluran tangan tak akan ia tolak. Ya, untuk penguat tunduk. Hanya penguat tunduk kepalanya. Tapi?? Kali itu ia menitikkan air mata lagi. Beningkah? Kurasa bening. Ia menagis karena mengapa yang mengulurkan tangan padanya malah orang-orang yang hidupnya sesederhana dirinya. Mengapa hanya para tetangganya yang dinding rumahnya tak jauh beda dengan dinding rumahnya? Tak adakah orang yang di atas sederhana  itu melek dan lebih menyisikan hiasan dunianya pada orang tua ringkih itu? Ah, pemandangan yang sudah biasa. Bahkan pihak kuasa atas tanah negeri ini pun tak memandang genteng rumah mbah Sarmi. Memandang?? Melirik mata pun entah iya entah tidak. Memang begitulah ceritanya. Dan sampai sekarang mbah Sarmi hanya bisa memasrahkan nafasnya dalam keadaan hidup seperti itu. Tak ada yang disesali. Tapi lagi-lagi mata sayu itu menitikkan air mata bening. selesai

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia