surat lusuh bersama angin
Cerpen
Surat
lusuh bersama angin
Oleh
: S_R
Aku
hanya ingin memandangnya walau sekali. Rasa rinduku tak terbendung, kutumpahkan
air mata berlimpah-limpah tetesan. Saking sesaknya dada ini karena rindu, aku
tak bisa bernafas lancar. Aku tak bisa mengungkapkannya lewat ucapan, aku hanya
bisa menulisnya di lembar kertas lusuh ini. Aku ingin menulisnya serapi
mungkin, tapi apa daya, hanya pensil 10 cm inilah yang ada dan bersedia menjadi
alat untuk mengungkapkan kata-kata hati di kertas yang bahkan tak layak untuk
kujadikan surat. Aku memungut kertas bekas bungkusan nasi ini dari tempat
sampah. Lumayan bersih, tak ada coretan-coretan. Meski sudah sangat lusuh tapi
lumayan untuk di coretkan tinta. Bukan tinta, lebih tepatnya goresan pensil
yang tak panjang lagi. Aku juga memungutnya dari anak-anak sekolah yang sudah
membuangnya. Aku ingin sekali mengirim surat padanya yang entah di mana
keberadaannya. Aku tak tahu arah mana perginya. Terakhir kali aku melihat wajah
teduhnya saat aku hendak berangkat mengamen. Dan dia pergi bekerja sebagai kuli
bangunan. Ya, itulah saat terakhir aku menatap wajahnya, setelah itu, aku tak
menemukan sosoknya lagi di rumah kardus. Aku sudah berusaha mencarinya di
tempat-tempat yang bisa kujangkau. Tapi lama-lama kakiku protes, kakiku lecet
karena aku terus berjalan dan berlari untuk mencarinya dan terus mencarinya.
Sudah hari ke-10 ini aku melangkahkan kaki kurusku untuk menemukan sosoknya,
tapi di mana?? Batang hidungnya pun aku tak melihatnya. Aku hampir putus asa,
aku lelah, kaki dan tubuhku protes. Sudah sekitar 100 km lebih aku berjalan
menyusuri jalanan. Aku menangis setiap kali mengingatnya, aku rindu sosoknya.
Hanya dialah satu-satunya laki-laki yang membuatku semangat jalani hidup, yang
membuatku tegar dan pantang menyerah. Hanya dialah satu-satunya keluarga yang
kutahu sejak kecil. Ayah, aku merindukanmu. Katakanlah di mana kau berada? Aku
hanya seorang diri tanpamu.
Sampai
di alun-alun sebuah kota, aku berhenti mengistirahatkan kaki dan tubuh kurus
ini. aku duduk berjajaran dengan para pengemis dan anak jalanan kota. Keadaanku
tak jauh seperti mereka, bahkan lebih parah. Sejak kecil, yang kutahu dari
dunia adalah jalanan, anak pengamen, pengemis, pemulung, rumah kardus, dan ayah
seorang kuli bangunan yang tak tentu. Sebelum menjadi kuli bangunan, ayah juga
seorang pengamen. Oleh karena itu, aku juga menjadi pengamen kecil karena
sering diajak ayah mengamen di sepanjang jalanan kota, bus, bahkan tak jarang
di rumah-rumah penduduk. Sejak kecil, aku hanya tahu sosok orang tua ayah. Aku
tak mengenal sosok Ibu. Aku tak mengenal kata Ibu. Siapa Ibu?? Di dunia yang
mengurus dan merawat aku adalah sosok ayah yang bagiku wajahnya teduh meski
kusut. Meski kehidupan kami di dunia jalanan yang kotor, tak teratur, dan
identik dengan kemiskinan. Tapi sosok ayah yang kukenal tak pernah mengajariku
untuk hidup kotor. Aku ingat sekali ketika aku hampir saja terbawa arus
teman-teman untuk menjadi komplotan copet. Ketika itu ayah mengetahuinya dan
aku langsung diusir dari persinggahan kardus kami jika tak meninggalkan
teman-temanku. Padahal aku belum sampai melakukan yang namanya copet. Ayah
sangat melarang keras aku melakukan hal-hal yang haram, termasuk minum-minuman
keras. Dan hal itu membuat aku sering dicemooh teman-teman sepergaulan jalanan.
dan aku sering dijulukin pengamen sok suci. Tapi tetap, ayah mengajariku untuk
tidak menghiraukan hal tersebut. Meski aku harus kuat mental ketika
bercengkerama dengan anak-anak jalanan yang lain. Karena sejak kecil aku sudah
dikenalkan dunia pengamen, sampai umur remaja sekarang aku tetap menjadi
pengamen. Meski aku sudah ditawari ayah kala itu yang mendapat rejeki menjadi
kuli bangunan, untuk ikut menjadi kuli bangunan. Aku tak mau, dunia pengamen
sudah menjadi jiwaku. Dan aku menikmatinya. Dan ayah tak pernah memaksa
kehendakku, dia memberi kebebasan untukku menentukan keputusan. Meski aku tahu,
pandangan berjuta mata di luar sana memandang remeh kehidupan ini. tapi ayah
pernah mengatakan, kalau inilah garis kehidupan tuhan untuk kita. Satu hal lagi
yang membuatku kagum dan tak berani membantah perintahnya. Dia tak pernah
meninggalkan sholat lima waktu. Begitu pun aku. Dia selalu bilang, meski
kehidupan kita tak sebaik orang-orang yang diberi kehidupan baik oleh tuhan,
tapi sebagai manusia, kita harus mensyukuri nafas ini. dan kewajiban kita
adalah beribadah kepadaNya. Untuk itu, setiap kali waktu sholat tiba, dia
selalu mengingatkan aku untuk mendirikan sholat. Beliau pula yang mengajariku
bagaimana cara sholat itu. Ah, terlalu banyak kelebihan sosok ayah bagiku.
Karena
banyak kelebihan sosoknyalah yang membuatku tidak rela ditinggalkannya.
Kehidupanku berarti karena dia. Tanpa dia, aku akan jadi orang seperti apa? Entahlah.
Baru kali ini aku merasakan rindu yang sangat. Seumur hidup, aku tak pernah
merasakan rasa yang menyesakkan dada ini. ah, ayah di manakah engkau berada??
Aku rindu, aku tak rela kau meninggalkanku begitu saja.
Karena
aku sudah tak tahu bagaimana mengetahui keberadaanmu. Aku terpaksa menulis
surat lusuh ini. tenggorokanku sudah terlalu kering untuk menanyakan
keberadaanmu kepada setiap orang yang kujumpai. Surat lusuh ini berisi ungkapan
rasa rinduku padamu ayah, berisi keinginanku bertemu denganmu lagi. Aku tahu
suratku tak akan ada balasan. Tapi kuharap surat lusuh yang kuterbangkan
bersama angin ini suatu saat jatuh di hadapanmu dan kau baca isinya. Di manapun
kau berada!!
Komentar