rendah hati
Artikel
Rendah Hati, Rendah diri atau Sombong???
Bicara tentang rendah hati, yang dalam bahasa Arab biasa disebut Tawadlu’ sering dikaitkan
dengan sifat sombong. Kedua sifat tersebut memang saling berlawanan. secara
luas pengertian dari rendah hati atau Tawadlu’ adalah hati merasa semua
kenikmatan hanya dari Allah, tidak merasa lebih unggul atau lebih baik dari
hamba Allah yang lain, menjaga hati dari kesombongan dan pujian orang lain,
serta menjaga amal agar senantiasa ikhlas karena Allah semata. Orang yang
memiliki rasa rendah hati biasanya cenderung hidup sederhana dan tenang. Orang
yang rendah hati selalu mengakui kelemahan dan kekurangan diri sendiri. Di
kitab Nashaaihul ‘Ibaad ada yang mengatakan
“orang yang mengakui kelemahan diri akan
terpuji selamanya dan pengakuan adanya kekurangan itu tanda diterima amalnya.”
Pengakuan atas ketidaksempurnaan diri sendiri
menunjukkan ketidaksombongan dalam diri. Allah berfirman :
ß$t7Ïãur Ç`»uH÷q§9$# úïÏ%©!$# tbqà±ôJt n?tã ÇÚöF{$# $ZRöqyd #sÎ)ur ãNßgt6sÛ%s{ cqè=Îg»yfø9$# (#qä9$s% $VJ»n=y ÇÏÌÈ
63. dan hamba-hamba Tuhan
yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan
rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan
kata-kata (yang mengandung) keselamatan.
Rendah hati merupakan sifat yang terpuji dan Rasulullah
Saw. telah mencontohkannya. Hal tersebut disebutkan dalam perkataan sahabat :
Dan beliau SAW adalah orang yang sangat rendah hati,
lembut perangainya, dermawan luar biasa, indah perilakunya, selalu berseri-seri
wajahnya, murah senyum pada siapa saja, sangat tawadhu’ tapi tidak menghinakan
diri, dermawan tapi tidak berlebih-lebihan, mudah iba hatinya, sangat penyayang
pada semua muslimin. Beliau SAW datang sendiri menjenguk orang
sakit, menghadiri penguburan, berkunjung baik mengendarai keledai maupun
berjalan kaki, mengabulkan undangan dari para hamba sahaya siapapun dan
dimanapun. Bahkan ketika kekuasaannya SAW telah meliputi jazirah Arabia yang
besar datang seorang ‘A’rabiy menghadap beliau SAW dengan gemetar seluruh
tubuhnya, maka beliau SAW yang mulia segera menghampiri orang tersebut dan
berkata: Tenanglah, tenanglah, saya ini bukan Raja, saya hanyalah anak seorang
wanita Quraisy yang biasa makan daging kering. (HR Ibnu Majah-3312 dari abu
Mas’ud al-Badariiy).
Dalam kehidupan sehari-hari, sering sekali kita menemukan
berbagai ujian hati. Diantaranya adalah saat kita menghadapi pujian dari orang
lain dan terlena dengan banyaknya kenikmatan dunia. Dari Abdullah bin Mas’ud
ra. berkata:
“Banyak orang yang hanyut terbuai kenikmatan, banyak
orang yang termakan fitnah oleh pujian dan banyak juga orang yang tertipu oleh
tutup keaiban.”
Sering pula kita lupa daratan saat kita sibuk berbangga
hati karena berhasil dengan usaha yang telah kita lakukan, merasa pintar telah
menguasai ilmu tertentu, apalagi saat ketenaran dan pujian dari berbagai
kalangan menghampiri hidup kita. Tak ayal, hati kita terseret oleh gelombang
kecongkakan. Tak mudah memang untuk menghindari perasaan tersebut, tapi
seyogyanya kita berusaha menjaga hati dan amal kita untuk ikhlas hanya
mengharapkan ridlo Allah.
Perlu diketahui pula, bahwa rendah hati berbeda dengan
rendah diri. Rendah diri tidak dianjurkan oleh Nabi, karena merendahkan diri,
apalagi dalam status sosial dapat dikatakan menzalimi diri sendiri. Allah
menilai hambaNya berdasarkan hati, bukan karena fisik atau materi yang bersifat
keduniaan. Sedangkan rendah hati berada
diantara rendah diri dan sombong. Sekarang, mari kita muhasabah diri,
apakah kita sudah rendah hati atau malah rendah diri, atau bahkan kebalikan
dari rendah hati?? S_R
Komentar