Aku Fokus Mendengar(kan) Suara Sekitar

 Masa depan seperti lembar putih yang kosong, ia bisa ditulis dengan cerita apapun tergantung penulisnya. Namun ketika sudah tertulis, itu menjadi sebuah sejarah hidup yang bisa dibaca kembali.

 

#AKU MENDENGAR

Aku terbangun di pagi pertengahan bulan April ini.

Pagi yang mungkin terlalu dini untuk memulai hari.

Namun, ketika pertama kali kudapati diriku tersadar dari lelapnya tidur, aku menyadari penuh apa yang kudengar. Bukan apa yang kulihat.

Aku mendengar deru ombak dari kejauhan. Aku mendengar desiran angin yang kencang.

Aku mendengar rintikan gerimis yang pelan menjatuhi genteng-genteng rumah. Aku mendengar deru mesin kendaraan silih berganti.

Aku mendengar cicitan burung tetangga dan burung-burung yang bertengger di atas kabel saling bersahutan. Aku mendengar suara kokok ayam.

Aku mendengar mesin-mesin perahu melaju dari kejauhan dan semakin menjauh. Aku mendengar suara spatula dan wajan beradu mengaduk sesuatu yang menghasilkan aroma sedap.

Aku mendengar suara deritan pintu kamar Bapak mulai terbuka. Dan aku mulai mendengar lantunan merdu surah Ar-Rahman disusul adzan dari speaker masjid yang menggema di seluruh desa.

Tak lama, aku mendengar suara air mengalir deras dari pipa yang bersumber dari sumur. Oh, ternyata hari mulai hidup kembali. Dan aku memulai petualangan hidup lagi.

Aku tak ingin lupa untuk bersyukur atas nikmat besar ini. Aku bisa mendengar dan mendengarkan. 

Setelah aku mendengar suara dunia yang seramai itu. aku mulai menyalakan hp dan melihat media sosial.

Aku beranjak dari dunia yang benar-benar nyata ke dunia maya. Aku pilih postingan yang menginspirasi untuk kukonsumsi sebagai sarapan otak. Dan aku menemukan tulisan di medium dan twitter yang menggugahku untuk kembali menulis jurnal harian seperti ini.

14/4/2025 05:50 AM

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia