Hanya Ingin Bersyukur
Hanya Ingin Bersyukur
Hari terus berganti. Alhamdulillah, Allah telah
memberiku hidup lagi.
Tengah malam, namun nama hari sudah beralih
dari Senin ke Selasa. Sayup-sayup aku membuka mata. Aku terbangun dan tersadar
karena mendengar suara. Suara dari speaker musholla. Suara yang terdengar berat
mengabarkan bahwa ke sekian kali ada keluarga yang berduka. Suara yang
mengabarkan bahwa ada manusia lagi yang meninggalkan dunia. Suara yang
mengabarkan para orang-orang tua di sekitar rumah mulai perlahan meninggalkan
keluarga selamanya. Mulai meninggalkan para tetangga. Mulai berpulang menuju ke
alam yang berbeda.
Aku tahu kematian tak mengenal usia. Mau masih
kanak-kanak, beranjak belia, saat dewasa, maupun sudah tua renta. Dia bisa
datang dan dialami kapan saja. Itu memang sudah menjadi rahasia. Itu mengapa,
selama masih diberi nikmat hidup dalam raga, di alam dunia, menghirup udara,
menikmati semesta, sebagai hamba aku sadar harus lebih banyak syukurnya. Dengan
melakukan kebaikan-kebaikan saja. Iya, manusia selalu ada salahnya. Tapi terus
tidak lupa memperbaikinya.
Mataku tertutup lagi. Kembali ke alam mimpi.
Alam yang sulit aku mengerti. Karena seringkali memberi skenario hidup lain
yang mungkin dari racikan memori. Tidur, punya alamnya sendiri.
Selang berapa jam aku membuka mata lagi dan
kali ini tidak hanya kudapati suara ribut deburan ombak dari kejauhan. Tapi
juga suara-suara manusia di luar sana yang sepertinya mulai menyiapkan
pemakaman. Aku merasa tak perlu keluar. Karena mungkin aku adalah tetangga
asing yang tak perlu ambil peran. Tapi pikiranku mulai berjalan-jalan,
memikirkan keluarga yang ditinggalkan. Oh, betapa memulai hari ini dengan
kesedihan. Aku hanya berharap yang ditinggalkan penuh dengan penerimaan.
Aku mulai mendengar suara adzan subuh
berkumandang. Sama seperti yang sudah-sudah, tak mencolok ada perbedaan. Aku
bangkitkan tubuh untuk segera beranjak dari tempat tidur yang nyaman. Aku
memulai hari lagi dengan menghadap Tuhan. Aku sholat dengan tenang.
Namun seusai salam, aku terdiam. Benar-benar
hanya ingin diam. Tak seperti biasanya aku tak memanjatkan doa-doa yang
panjang. Aku berpikir tak apa sesekali tak panjatkan doa, karena doa-doaku sama
dan terus berulang. Aku hanya menggumam, “ya Allah, doa-doaku masih sama yang
pernah kuulang-ulang. Semoga Engkau kabulkan.” Dan hati yang paling terdalam
membatin, “aku hanya ingin bersyukur sebagai manusia yang terlahir dengan
agama-Mu, agama Islam. Aku ingin memanfaatkan waktu di dunia dengan berkarya.
Tak ingin berlarut merisaukan apa yang belum aku gapai, tak ingin berlarut
memikirkan doa-doa yang belum dikabulkan. Biarkan saja doa-doa itu menghiasi
hari di dunia yang tak tahu entah sampai kapan. Aku meyakinkan diri, bahwa
Allah pasti mendengarkan harapan-harapan yang terpanjatkan, meski tak dalam
kata-kata. Kulepas mukenaku, dan seketika aku membuka laptop untuk mulai hidup
dengan menuliskan apa yang aku dengar.
Komentar