Orang Tua yang Hobi Duduk di Teras Rumah
Orang Tua yang Hobi Duduk di Teras Rumah
Entah itu tepat dikatakan hobi atau tidak, tapi sejauh
pengamatanku banyak sekali para orang tua (yang sudah lanjut usia) yang
menghabiskan waktunya duduk di teras rumah. Ini berdasarkan apa yang saya amati
di lingkungan saya.
Entah sejak kapan saya suka mengamati rumah-rumah
setiap kali melakukan perjalanan. Entah itu mengendarai motor, naik bis, naik
mobil, atau berjalan kaki. Saya suka mengamati bagian depan rumah-rumah yang
sepanjang saya lewati. Terutama bagian terasnya. Bukan membandingkan bagus tidaknya,
tapi lebih ke mengamati suasananya. Bicara rumah, dari teras depannya saja
sudah banyak sekali memperlihatkan kisah penghuninya, apalagi bagian dalamnya.
Rumah, memang tempat pulang. Entah sementara atau selamanya.
Setiap kali pulang dari mengajar, seringkali pada sore
hari, saya selalu mendapati bapakku duduk di kursi yang ada di teras depan
rumah. Saya selalu disambut bapak dengan ekspresinya yang sama setiap hari.
Senyumnya seakan menunjukkan rasa bahagia karena anak gadisnya telah pulang
dengan selamat. Ketika saya masuk teras rumah dan berucap salam, mata bapak
tampak berbinar dengan sekilas melihatku yang tampak lelah. Setiap kali saya
tidak mendapati bapak duduk di teras, pikiran saya langsung ke mana-mana, bapak
di mana? apakah sakit? apakah pergi?. Dan ketika itu saya langsung ngecek kamar
bapak, apakah bapak terbaring di kamar. Perasaan saya lega ketika bapak memang
sedang istirahat tidur atau kadang ya di belakang rumah sedang bersih-bersih.
Karena bapak sudah tidak bekerja, beliau banyak menghabiskan waktu duduk di
teras rumah sambil mengamati jalanan, kadang ngobrol sama kakak dan tetangga
yang mampir, minum teh dan nyemil, dan lain-lain. Pernah saya nimbrung duduk di
depan rumah saat malam sambil melihat bulan dan bintang, bapak kutanya kenapa
sering duduk di teras, kan bisa di dalam. Beliau tak menjawab, namun matanya
menatapku dalam.
Suatu hari sebelum bulan puasa, saat pulang dari
mengajar saya melewati jalanan yang tidak seperti biasanya. Saya lewat sebuah
gang yang padat rumah di daerah dekat tempat saya mengajar. Saya mengendarai
motor dengan sangat pelan, sengaja ingin bersantai. Saya memedarkan pandangan
ke sekitar. Dan saat itu saya melihat ada banyak orang tua (yang lanjut usia) duduk santai di teras depan rumah. Ada yang berdiam mengamati jalanan, ada yang
asyik dengan dirinya, dan sedikit yang punya
teman ngobrol satu sampai dua orang. Sesekali kusapa mereka meski tak kenal dengan sapaan ‘monggo
Mbah’, dan saat kusapa senyum mereka merekah. Aih, saat itu saya berpikir bahwa
mungkin mereka butuh sesuatu untuk menghalau sepi karena tak menemukan sesuatu
yang ramai di dalam rumah. Karena para anak dan cucu beraktivitas dengan
kegiatan masing-masing.
Di momen Idul Fitri, saat saya berkunjung ke rumah
teman saya, saya juga melihat ibu teman saya selalu duduk di teras depan
rumahnya. Saat itu saya dipersilahkan duduk di teras rumahnya sambil ngobrol
dengan ibunya karena memang beliau habis sakit. Bapak teman saya sudah
meninggal, jadi tinggal orang tua ibu. Ketika kami ngobrol dan saya tanya
mengapa tidak duduk di dalam saja, beliau menjawab bahwa karena justru itulah
hiburannya duduk di depan rumah sambil melihat dan menyapa setiap tetangga yang
lewat. Kadang ya duduk di dalam, tapi lebih sering di depan rumah. Dan itu
sederhana, itu beliau lakukan saat tidak ada anak dan cucu yang menemani di
dalam rumah. Bahkan beliau cerita dengan semangat telah membeli kursi baru dari
pedagang kursi keliling karena melihat modelnya yang klasik dan ditaruh di
teras rumah supaya nuansanya baru saat beliau menghabiskan waktu di situ. Mendengarnya,
tiba-tiba ada perasaan aneh menyelinap dalam hatiku. Sesepi itukah menjadi
orang tua yang sudah lanjut usia?
Barangkali, orang tua lah yang benar-benar merasa
kesepian setelah anak-anaknya dewasa dan punya kehidupan masing-masing.
10/4/2025 10:00 AM

Komentar