Momen Idul Fitri yang Cepat Berlalu
Momen Idul Fitri yang Cepat Berlalu
Tuh kan,
waktu melesat lagi. Waktu tak kurang dari 24 jam setiap hari, tapi tetap saja
momen lebaran yang rasanya baru saja kemarin dirayakan bersama keluarga besar
ternyata sudah berhari-hari yang lalu. Saudara-saudara sudah kembali ke tempat
tinggal masing-masing. Kini saya kembali sendiri lagi beraktivitas seperti
biasanya di rumah. Masih ada sisa hari libur sebelum benar-benar kembali
mengajar, dan hati saya terketuk untuk menyapa kembali laptop yang lama
tersudutkan di antara tumpukan buku. Ya, dan akhirnya saya ingin menulis lagi.
Selepas
sholat maghrib, seperti biasa saya membaca al-Quran. Saya melanjutkan membaca juz
30 yang tadinya target khatam di bulan Ramadhan, namun tak terealisasi karena
ada halangan. Salah satu kebiasaan saya setiap kali membaca ayat al-Quran, saya
usahakan juga membaca terjemahnya supaya lebih memahami makna ayatnya. Saat
saya membaca sampai di surah al-Insyiqaq ada hadis penjelas tentang
silaturahmi. Begini hadisnya yang saya baca, Rasul saw. bersabda: “barangsiapa
yang ingin berusia panjang hendaknya menyambung kasih sayang (silaturrahmi).”
(Bukhari IV/49, Syirkah Maarif, Bandung).
Membaca
hadis itu, saya menjadi teringat pengalaman saya di hari pertama Idul Fitri.
Hari di mana hati saya merasa jauh lebih tenang dan damai. Lebih mindful dan
siap jiwa raga menjalani ritual Idul Fitri. Mental lebih aman bertemu
orang-orang dibanding Idul Fitri tahun lalu.
Pagi seusai
sholat Id, saya dengan seksama mendengarkan khotbah dari sang Imam. Salah satu
isi khotbahnya adalah mengingatkan pentingnya sebagai orang mukmin untuk saling
berbagi dan bersilaturahmi, terutama pada keluarga dan guru. Saya termenung sesaat
saat mendengarkannya. Pada malam takbiran, teman saya menawari saya untuk
bersilaturahmi ke rumah guru ngaji saya yang lama tidak pernah bertemu. Saya
sempat ragu mengiyakan, dengan alasan rasanya belum siap menjawab pertanyaan
atau cerita tentang status single yang masih belum berubah, karena dugaanku
pasti akan ditanya hal itu. ditambah saat itu muncul perasaan ‘merasa
tertinggal’ dengan adik-adik kelas yang sudah menikah dan punya anak. Namun
sembari mendengarkan khotbah, saya mencoba berpikir jernih dan bicara dengan
diri saya sendiri. Memangnya tujuan silaturahmi apa? Memangnya kenapa kalau masih
single di usia segini? Ya kalau ditanya tinggal dijawab. Toh seorang guru yang
lama tak bertemu pasti menanyakan kabar. Intinya di situ saya mencoba
meyakinkan diri bahwa perasaan ragu itu tak perlu dituruti sehingga menghalangi
niat baik bersilaturahmi pada guru.
Di situlah
saya mantap bahwa tak perlu risau apa yang terjadi jika niat kita baik,
pandai-pandai mengendalikan perasaan dan mindset saja. Sadar bahwa tak bisa
mengendalikan yang di luar diri kita. Dan benar saja, saat saya berkunjung ke
rumah guru saya, beliau seperti membaca situasi. Pertanyaan ‘apakah sudah
menikah?’ itu hanya sekilas menanyakan kabar saja, selanjutnya kita banyak
ngobrol tentang pendidikan karena sama-sama bergelut di bidang itu. Ya, apa
yang kita duga kadang memang belum tentu benar adanya.
Masih
tentang momen di hari pertama Idul Fitri. Pagi selepas sholat Id dan
bersalam-salaman meminta maaf dengan para anggota keluarga, bapak dan saya
pergi berziarah ke makam ibu dan mbah-mbah saya. Ya, menyambung kasih sayang
tidak hanya pada keluarga yang masih hidup, tapi juga yang telah berpindah ke
alam kubur. Meski kita bisa mendoakan dari rumah, tapi tetap saja mengunjungi
makamnya terasa berbeda. Bapak menaburkan banyak bunga di atas pusara ibu dan
mbah-mbah saya. Kemudian kami membaca tahlil bersama. Kami tak sendiri, para
tetangga kami juga berziarah ke makam anggota keluarganya masing-masing, dan
tahlil serta doa terdengar bersahut-sahutan. Namun sejenak saya mengamati
dedaunan dan bunga kamboja yang dekat dengan makam ibu saya, pohon kamboja itu tenang
sekali, tak berkutik karena tak ada hempasan angin sama sekali. Suasana terasa
tenang dan cuaca teduh, tak terlalu panas namun juga tak mendung. Entah
perasaan apa yang hinggap saat itu, saya lantas berkata dalam hati, betapa pada
akhirnya kita akan kembali menyatu dengan tanah. Sekarang masih diberi
kesempatan berjalan di atas tanah, dan apa saja yang sudah dilakukan salama di
atas tanah? Apakah benar-benar sudah menyiapkan bekal untuk hidup di bawah
sana. Ah, renungan itu tiba-tiba hinggap di kepala.
Seusai
berziarah atau berkunjung ke makam ibu, barulah saya lanjut berkeliling ke
rumah keluarga lain dan para tetangga. Ada satu hal lagi yang saya ingin
tuliskan di sini. Masih dengan momen hari pertama Idul Fitri. Saat saya berkunjung
ke rumah salah satu tokoh agama di desa saya, dalam obrolan singkat, beliau
mengatakan bahwa di bagian bumi mana kita dimakamkan, berarti dari tanah situ
kita diciptakan. Kita akan kembali pada tanah tempat di mana kita diciptakan.
Saat itu tamu ramai, aku ingin sekali menanggapinya dan mempertanyakan
pernyataan itu bersumber dari mana, tapi saya urung mengutarakannya karena
setelah itu saya diajak saudara saya segera berpamitan karena bergantian dengan
tamu lain. Dan sampai sekarang, itu masih menjadi tanda tanya.
08/04/2025
8:30 PM
9 Syawal 1446 H
Komentar