Be Mindful, Be Grateful, Be Kind
Be Mindful, Be Grateful, Be Kind
Sebuah perjalanan diri untuk menemukan ketenangan
Di
suatu pagi saya membuka aplikasi X yang lama tak kubuka, dan saat saya membuka
kembali postingan yang tersimpan, saya menemukan postingan dengan tiga kata Be
Mindful, Be Grateful, Be Kind. Tiga kata itu yang kemudian secara sadar
membangkitkan semangat saya untuk terus menjalani hari. Dan setiap kali di
posisi merasa terpuruk, cemas, dan sedih, saya selalu mengingat tiga kata itu.
Saya akan mengatakan seperti mantra pada diriku, ‘ayo coba be mindful, be grateful, and be kind!’
Be Mindful
Sadar
utuh. Hadir sepenuhnya pada saat ini, dengan menyadari pikiran, perasaan, dan
sensasi tubuh tanpa menghakimi. Itulah mindful. Saya pernah belajar tentang
mindfulness saat momen pelatihan guru. Salah satu teknik mindfulness yang
paling saya ingat adalah teknik grounding. Yaitu mengingat dan menyadari penuh
apa yang bisa dilihat, didengar, disentuh, dibaui, dan dikecap. Saya
beberapakali mempraktikkan teknik itu untuk membuat diri saya menyadari penuh momen
saat ini. Apalagi saat saya sedang merasa kalut dan sesak dengan pikiran dan
perasaan hingga saya overthinking. Cara ini cukup membantuku untuk meredakannya.
Dalam teknik grounding itu, saya lebih sering menyadari penuh apa yang saya
dengar. Salah satunya mendengarkan detak jantung dan ritme nafas saya. Itu
sangat menenangkan. Teknik itu selalu berhasil membuat perasaan dan pikiranku
lega. Ya, setiap kali saya mencoba be mindful saya merasa kembali lebih hidup.
Saya
juga pernah membaca buku Filsafat Kebahagiaan karya Fahruddin Faiz. Ada kutipan
yang terkait dengan mindful ini, yaitu “kunci menemukan hakikat diri adalah
hiduplah kini (saiki), di sini (ing kene), dan begini (ngene).” Dengan menyadari
penuh tiga hal itu, kita akan jauh lebih merasa bahagia. Ya, menikmati masa
kini. Yang lalu biarlah berlalu, saat ini patut dijalani, dan masa
depan belum datang.
Be Grateful
Rasa
syukur itu menenangkan. Ketika saya berhasil melakukan mindful, saya akan mudah
fokus dengan apa yang terjadi pada diri, menerima kondisi diri sendiri. Hal itu
membuat saya terdorong untuk mudah merasa bersyukur. Ketika saya overthinking,
saya seringkali banyak memikirkan tentang orang lain dengan segala pencapaiannya,
dan itu membuatku cenderung membandingkan hidupku dengan hidup orang lain,
lantas saya merasa insecure dan merasa hidup ini menyedihkan. Namun hati
mungilku selalu berkata, sebagai muslim tidak sepatutnya saya tidak bersyukur.
Allah sudah memberi banyak kenikmatan, masing-masing makhluk-Nya sudah dijatah
hidup dengan segala takdirnya.
“Jika
kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya…”
(Terjemah QS. An-Nahl: 18)
“Maka
nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.” (Terjemah QS. Ar-Rahman: 13)
“Jika
seorang mukmin mendapat kesenangan, ia bersyukur, itu baik baginya.” (HR.
Muslim)
“Hati
yang bersyukur tidak akan pernah merasakan kekurangan.” (Ibnu Qayyim)
“Belajarlah
mengucap syukur dari hal-hal baik di hidupmu! Belajarlah menjadi kuat dari
hal-hal buruk di hidupmu!” (BJ. Habibie)
Itu
beberapa kutipan yang ada di buku jurnalku, buku Muslimah Planner. Yang setiap
kali saya menulis jurnal, kutipan itu selalu terbaca. Dan itu cukup menjadi
pengingat bahwa sebaiknya memang harus diupayakan rasa syukur itu. Dengan
syukur, Allah memberikan rasa tenang dan bertambahnya kenikmatan. Kenikmatan
berupa kesehatan, keluarga, waktu, hati yang tenang, atau apapun itu. Dan
bagian dari rasa syukur adalah menerima takdir-Nya.
Beberapa waktu yang lalu, saya belajar Bahasa Inggris melalui podcast (English Podcast
With Ruby). Seperti di momen yang pas saat saya ingin menuliskan topik ini, saya menemukan podcastnya yang berjudul Power of Gratitude. Bagus sekali apa
yang dibahas dalam podcastnya tentang rasa bersyukur atau berterima kasih.
Beberapa ungkapan yang saya highlight dalam podcast itu, “Gratitude is not
just feeling, but a healing. Studies show that gratitude reduces stress and
increases joy. It actually changes our brain-boosting dopamine and serotonin.”
Semakin dewasa saya semakin sadar, nikmatnya menyadari penuh setiap momen yang terjadi pada diri. Tak harus momen luar biasa dan istimewa, menikmati dan beryukur pada momen kecil, sederhana, dan bahkan momen biasa saja pun itu nikmat tiada tara. Tak ada yang sempurna di dunia, pasti ada lelah, tapi selama ada masa dan asa, kita hanya perlu terus melangkah.
Be Kind
Saya
tidak ingin terlalu panjang membahas ini. Karena sudah seharusnya kita berbuat
baik. Kata baik itu konteksnya sangat luas. Manusia selalu punya pilihan untuk
menjadi baik atau tidak. Namun siapa yang berharap tak ingin menjadi baik atau
tak berharap bertemu dengan orang baik. Tak ada alasan untuk tidak berbuat
baik, kendati tak ada manusia yang sempurna. Setiap manusia selalu punya salah,
namun selalu ada pilihan untuk memperbaiki.
Terkadang
ada situasi di mana menjadi baik sangat terasa berat. Namun hati nurani pasti
resah jika tahu kalau yang diperbuat tidak baik. Jadi memang sudah seharusnya
kita berbuat baik meski butuh perjuangan dan pengorbanan. Karena kebaikan
selalu berdampak positif.
Saya
pernah bertemu dengan salah satu kenalan dan berniat mengenalku lebih jauh
untuk sebuah hubungan yang serius. Namun akhirnya dia memutuskan untuk tidak
melanjutkannya dengan alasan saya terlalu baik. Aih, saat itu saya hanya tersenyum
heran. Saya pikir, kenapa baik harus ada embel-embel terlalu baik? Entahlah.
Yang jelas, jangan pernah bosan untuk terus berbuat baik. Berbuat baik itu
menenangkan.
“Ketahuilah,
setiap takdir Allah selalu mengandung kebaikan. Bahkan di balik cobaan yang
paling berat sekalipun, terdapat rahmat dan karunia yang tidak ternilai.” (Imam
al-Qurtubi)
14
Juli 2025
Komentar