Mewariskan Kegemaran pada Buku

 Mewariskan Kegemaran pada Buku


Masih nuansa hari libur, saya lebih sering berinteraksi dengan buku-buku dibanding ketika hari masuk kerja. Namun saya mudah bosan jika hanya membaca satu buku, jadi saya selalu membaca buku lebih dari satu. Dan akibatnya saya jarang mengkhatamkan buku dengan cepat, haha.

Saya juga punya kebiasaan menumpuk buku-buku yang sedang atau akan saya baca di atas kasur (bersanding dengan bantal), karena saya termasuk penggemar buku kategori _librocubicularist_, yaitu suka baca buku di tempat tidur. Meski kadang baru 10 menit membaca sudah menguap dan terlelap. Tapi beda cerita jika isi bukunya seru dan membuat semangat untuk terus membaca, hehe.

Akhir bulan lalu, ketika berselancar di toko belanja online, saya tak sengaja melihat banyak diskon buku dari salah satu penerbit. Duh, diskonnya terlalu besar untuk harga buku yang menurutku judulnya bagus-bagus dan saya butuhkan saat ini. Awalnya saya menahan diri untuk tidak membelinya, namun apalah daya, tak bisa saya abaikan buku bagus yang harganya terlampau murah itu. Akhirnya, saya beli beberapa buku untuk menambah koleksi.

Ketika buku itu datang, saya senang sekali dan bersemangat untuk membukanya. Saat saya mulai menata buku di atas meja, lebih tepatnya menumpuk, bapak saya tahu kalau saya membeli buku baru. Bukan tidak suka, tapi bapak saya punya pandangan terlalu sayang uang untuk dibelikan buku banyak-banyak, karena bisa dibelikan untuk kebutuhan lain.

Saat itu bapak saya berkomentar, "Buku sudah banyak kok beli lagi." Dan saat itu saya menyahuti, "Ga apa-apa Pak, kan saya baca." Dalam hati saya juga membatin, ya barangkali di masa depan buku-bukuku ini jadi peninggalan berharga untuk ponakan-ponakan atau anak cucuku kelak.

Seusai menata buku, saya merebahkan diri di tempat tidur dan meraih buku yang saat ini masih proses saya baca. Yaitu buku Cita untuk Perempuan yang Tidak Sempurna karya Najelaa Shihab. Saya membuka kembali bab yang pernah saya baca sebelumnya. Ada narasi bagus dari tulisan bu Najelaa di buku ini yang saya beri highlight, narasinya seperti ini;

"Ketika menulis catatan ini, saya memandang ke halaman rumah pada saat hujan. Pasti bukan kebetulan, karena hujan selalu jadi momen yang paling penuh kenangan dalam pengasuhan. Setiap hujan, saya selalu mencontohkan nikmatnya bacaan. Kegemaran pada buku adalah salah satu hal yang saya harapkan bisa diteruskan Nishrin dan Nihlah (dan Fathi) sebagai warisan. Bacaan adalah penangkal kesepian."

Yang menarik hati dan menginspirasiku setelah membaca narasi itu, bu Najelaa menuliskan harapannya kegemaran pada buku bisa diteruskan sebagai warisan. Saya kagum dengan beliau, sebegitu berharganya buku bagi keluarga beliau. Saya juga pernah di satu kesempatan pada tahun 2019 saat ada acara di Jakarta, bersama rombongan saya bisa mampir dan bersilaturahmi di rumah Abi Quraish Shihab. Dan saat hendak pulang, saya dan para anggota rombongan lain diberi oleh-oleh buku karya Abi Quraish Shihab. Dan kala itu saya sangat senang sekali mendapat buku beliau, saya masih menyimpan buku pemberian itu.

Adakalanya saya juga berpikir sebagai perempuan yang hidup di keluarga yang biasa-biasa saja, apa ya yang bisa saya wariskan kelak pada keturunan saya (meskipun belum menikah, haha). Tapi, setelah baca tulisan bu Najelaa di atas, saya jadi terbetik niat, saya juga bisa mewariskan kegemaran pada buku. Mungkin terdengar sederhana dan tak mewah, namun saya yakin ini berharga di sepanjang masa. Karena buku akan mengantarkan kita pada hidup yang bernilai dan bermakna, bukan?


Bagaimana menurut kalian? 😊


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia