Mendengarkan Suara Diri melalui Menulis

 Mendengarkan Suara Diri melalui Menulis



Senang sekali rasanya bisa terus membaca tulisan-tulisan di Medium. Saya selalu memilih tulisan mana yang akan kubaca, namun setiap kali ada notifikasi tulisan baru dari Medium, saya bersemangat ingin membaca semua. Dan dalam hampir 3 bulan ini, Alhamdulillah saya berhasil konsisten membaca tulisan-tulisan di Medium setiap hari. Meski membaca buku agak terkurangi waktunya, hehe.

Bulan Juni lalu saya banyak membaca tulisan dengan topik self improvement. Terutama topik motivasi menulis. Saya tidak bisa menyebutkan penulis dan tulisan mana saja yang menginspirasiku, karena saya rasa banyak tulisan di Medium yang insightful dan valuable. Tak sedikit juga tulisan tentang refleksi pengalaman hidup yang hangat dibaca, berasa dipeluk dan ditemani karena saking relatenya.

Membaca buku dan menulis adalah hobiku sejak lama. Membaca mungkin mudah saya lakukan di manapun dan selama saya berkomitmen dengan waktu yang saya jadwalkan, saya akan dengan mudah menikmati kegiatan membaca buku. Ada yang bilang bahwa kegiatan membaca sebenarnya adalah kegiatan yang pasif, karena dia hanya menerima informasi atau pengetahuan, maka dari itu kegiatan membaca sebenarnya lebih mudah daripada menulis yang menuntut otak lebih aktif. Meski membaca buku juga tidak semua orang bisa menikmatinya. Dan menulis tentu saja butuh banyak membaca.

Untuk kegiatan menulis, yang juga saya katakan itu hobi saya, tak semudah saya membaca buku. Hampir setiap hari saya memang menulis, menulis diary atau jurnal harian tentang pikiran dan perasaanku. Tapi adakalanya saya sangat malas melakukannya. Ketika menulis diary, Jangan tanya bahasanya, tentu sama sekali tak mengindahkan tata bahasa yang baik. Karena memang tak untuk dipublikasikan. Menulis diary tentu sangat membantu untuk menjaga kestabilan mentalku. Apalagi di saat-saat kondisi mental lagi down, menulis adalah salah satu cara positif yang sangat ampuh untuk menyalurkan, bertahan, memulihkan, hingga membangkitkan semangat kembali. Seperti saya menulis saat overthinking, rasanya saya mendengarkan riuhnya suara diri sendiri yang kemudian tertumpah menjadi tulisan.

Dan akhir-akhir ini, entah mengapa rasanya kalau menulis diary saja membuatku tak merasa berjalan ke mana-mana. Merasa ada yang stuck. Merasa ada ruang kosong lain yang perlu kuisi. Berhari-hari saya merenungkannya, saya coba mendengarkan suara diriku, dan sebenarnya hati mungilku sudah tahu jawabannya. Ya, saya juga ingin berbagi dan berdampak. Itu mengapa saya perlu belajar menulis yang baik tidak hanya untuk diri, tapi juga untuk dibaca orang lain.

Medium adalah salah satu wadah yang saat ini membuatku tergerak untuk berbagi tulisan. Meski adakalanya maju mundur untuk mempublikasikannya. Namun di satu sisi, saya juga tak ingin terbebani untuk berbagi tulisan hanya karena ingin dibaca orang lain, tapi memang saya ingin mendengarkan suara diri yang bisa dibagikan ke orang lain.

Saya teringat kutipan dari bu Najelaa Shihab di buku beliau yang berjudul ‘Cita untuk Perempuan yang Tidak Sempurna’, kutipannya seperti ini, “Menulis tidak melulu soal berekspresi dan berkomunikasi. Menulis seringkali adalah upaya mendengarkan diri sendiri dan mewujudkannya dalam bentuk narasi yang dipatri. Menulis adalah bagian dari cita-cita hidup ini yang selalu bisa dikunjungi kembali.”

Jadi, apa yang ingin saya elaborasikan dari hati dan pikiran? InsyaAllah saya akan terus menulis dan berbagi tulisan.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia