Aku Pulang
Kalau sudah sampai, kabarin ya.
‘Aku pulang’, dua kata itu mungkin terdengar sederhana, tapi akhir-akhir ini dua kata itu lebih terasa berharga, dan bersyukur ketika bisa mengatakannya saat sampai di rumah setelah perjalanan pulang dari rutinitas bekerja.
Sejak Selasa 28 April, aku seringkali dibuat menangis berita tentang korban KRL di Bekasi Timur yang kulihat di media sosial. Dan Jumat pagi ini aku melihat berita korban ke 16 yang meninggal dunia. Sosok ayah dan ibu yang menanggung duka atas kepergian anak-anak perempuannya membuatku ikut merasakan sedihnya kehilangan. Orang tua yang setiap hari tanpa kata-kata menanti kepulangan anaknya dengan selamat dan berharap bisa bersua kembali dengan keluarga, kini harus menerima kenyataan bahwa sang anak kembali tanpa nyawa.
Mungkin karena sama-sama perempuan yang berjuang menjalani rutinitas pulang pergi untuk berkarir, aku ikut merasa kehilangan mereka seperti kehilangan teman sendiri.
Aku tak sama dengan mereka yang harus pergi dan pulang dari tempat bekerja dengan naik KRL, harus lari mengejar jadwal keberangkatan kereta, berjejal masuk ke dalam gerbong, berdesakan dan menahan posisi sedapatnya di dalam kereta hingga sampai di tempat tujuan. Aku mengendarai sepeda motor sendiri dan leluasa mengatur jadwal berangkatku tanpa berdesakan untuk pergi dan pulang dari tempat mengajar. Meski berbeda, tapi kita sama-sama anak perempuan yang meninggalkan rumah setiap hari untuk berkarir. Dan setiap hari berharap akan terus pulang dengan selamat.
Kadang sebuah peristiwa membuat kita merenung dan menyadari betapa berharganya setiap detik dalam hidup ini. kematian benar-benar misteri namun pasti. Kita tak tahu kapan, di mana, dan bagaimana kelak dipanggil pulang di hadapan Tuhan. Karena misteri itulah aku menyadari sebagai manusia harus terus berikhtiar melakukan hal-hal baik. Aku tak pernah bosan merapalkan doa-doa setiap hari sebelum berangkat mengajar. Karena aku tahu selain ikhtiar berhati-hati di jalan, aku harus minta perlindungan Tuhanku. Dan satu hal lagi yang sekarang aku tak ingin mudah melewatkannya, salim dan berpamitan dengan orang tuaku. Orang tua yang setiap hari menunggu kepulangan kita saat kita pergi meninggalkan rumah.
Seringkali aku terburu-buru pergi dan melewatkan untuk sejenak menatap, salim, dan berpamitan ke orang tua. Namun akhir-akhir ini aku mencoba untuk pelan dan hadir sejenak dengan menyentuh dan mencium tangan orang tuaku, sambil berkata singkat ‘bapak, aku berangkat.’ Begitu pun ketika pulang, aku tak ingin lagi terburu-buru meletakkan tas dan masuk ke ruanganku tanpa menyapa orang tua. Sesampainya di rumah, aku salam dan mengabarkan bahwa aku pulang. Aku hadir kembali di rumah dengan selamat.
Dan ketika ada momen di mana aku harus pergi jauh untuk beberapa hari, aku bilang pada orang tua, ‘aku akan kabari kalau sudah sampai’. Dan saat sudah sampai di tempat tujuanku, aku tak lupa memberi kabar bahwa aku sudah sampai. Kata-kata itu sederhana, tapi aku tahu kabar itu sangat berarti bagi keluarga yang di rumah dan menanti kita pulang.
Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga ada hal baik atau inspirasi yang bisa dipetik.

Komentar