Bedah Buku Kamus Al Munawwir
A.
Pendahuluan
Zaman
sekarang ini, sudah tak asing lagi ketika kita mendengar nama Kamus al Munawwir
disebut. Ya, Kamus al Munawwir ialah sebuah kamus bahasa Arab-Indonesia yang
merupakan kamus bahasa Arab
terlengkap, paling tebal dan legendaris di Indonesia. Kamus ini telah banyak
digunakan oleh para penuntut ilmu (thullabul Ilmi) untuk mengetahui arti
kosakata Arab ke dalam bahasa Indonesia juga sebagai acuan penerjemahan
kosakata pada kitab kuning. Sampai
sekarang pun, kamus ini masih popular dikalangan pemburu ilmu, terlebih kita
yang notabennya mahasiswa dan santri. Meski sudah banyak kamus-kamus yang
tercetak, namun kamus al Munawwir ini masih saja menjadi rujukan utama dalam
mencari arti kosakata.
B.
Biografi
Penulis
KH. A.W. Munawwir. Nama asli
beliau KH. Ahmad Warson Munawwir. Nama
asli Kiai Warson tidak banyak dikenal, kecuali oleh santri Krapyak dan para
sahabatnya. Pasalnya, ia hanya membubuhkan namanya dengan inisial A.W.
Munawwir. Beliau merupakan penulis kamus terlengkap dan
terpopuler yakni kamus al Munawwir. KH. Ahmad Warson Munawwir berasal
dari keluarga besar
KH. M. Munawwir pendiri Pesantren Krapyak. Ayahanda KH. Ahmad Warson mempunyai lima istri. Untuk istri kelima, beliau menikahinya
sesudah kewafatan istri pertama. KH. Ahmad Warson Munawwir anak ke 10 dari sebelas saudara kandung. Beliau
terlahir pada Jum’at Pon, 30 November 1934 atau 20 Sya’ban 1353 Hijriyah.
Singkat
cerita, pada masa awal
kepengasuhan Mbah Ali Maksum (kakak Kyai Warson), semua santri dipulangkan guna
memberikan pendidikan intensif kepada keluarga Pesantren Krapyak. Saat itu,
Mbah Ali Maksum dikenal sebagai seorang kakak sekaligus guru yang tegas dalam
mendidik adik-adiknya, salah satunya adalah Kyai Warson. Jika Kyai Warson tidak
bisa mencapai target hafalan alfiyah-nya, maka Mbah Ali akan mengikat tangan
atau kakinya hingga Kyai Warson mampu menghafal dengan baik.
Pengajaran tersebut membuahkan hasil yang tiada
tara sampai sekarang ini. Beliau diberi amanah oleh Mbah Ali yang dijuluki
Munjid Berjalan (kamus berjalan) untuk menulis kamus pada masa bujangnya.
Namun, seiring waktu Kamus al-Munawwir Arab Indonesia rampung setelah beliau
menikah. Dengan cara/ metode pendidikan Mbah Ali tersebut (dan tentu atas
rahmat Allah), Kyai Warson mampu menyusun sebuah Kamus Bahasa Arab yang sangat
populer dan fenomenal di Negeri kita, Indonesia bahkan sampai negeri tetangga,
seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Kamus tersebut terbit untuk
pertama-kalinya pada tahun 1984.
Selain menyusun kamus, Kyai Warson pun memiliki
semangat juang yang tinggi dalam membagikan ilmunya kepada para santri. Pada
tahun 1992, Kyai Warson mendirikan Madrasah Diniyyah Salafiyah III. Tak
terhenti pada ta’lim (pengajaran), beliau sangat menekankan tarbiyah
(pendidikan) yang berguna dalam membentuk karakter santri. Beliau tak
segan-segan dan tak pernah bosan mengingatkan santri agar selalu berada dalam
koridor kebaikan.
Penulis Kamus Bahasa Arab-Indonesia Lengkap Al-
Munawwir ini mengembuskan napas terakhir pada tahun 2013
tepatnya pada usia ke-79 tahun. Beliau meninggalkan dua anak, yaitu H. Fairus
Warson dan Hj. Qorry, yang semuanya merupakan Hafidz (Penghafal al-Qur’an).
C.
Pembahasan
Kamus al-Munawwir merupakan sebuah kamus bahasa Arab-Indonesia karya KH. A.W.
Munawwir yang merupakan kamus bahasa
Arab terlengkap, paling tebal dan legendaris di Indonesia. Kamus dengan
tebal 1634 halaman ini termasuk kategori best seller, karena telah
dicetak berulangkali dan dicetak sekitar 10 ribu-15 ribu eksemplar pertahun oleh Penerbit Pustaka Progressif Surabaya pada tahun 1404 H/ 1984 M.
Kamus al-Munawwir ini dijadikan rujukan utama dalam
meneliti makna bahasa Arab yang telah diserap ke dalam bahasa Indonesia, tapi
ia bukanlah “hakim” yang memutuskan hasil akhir ‘perkara’ kata serapan dari
bahasa Arab.
Kamus ini ditulis berdasarkan susunan huruf
hijaiyyah. Dalam mencari makna dari sebuah kata dalam kamus al-Munawwir,
apabila kata tersebut terdiri dari huruf asli, maka dicari berdasarkan
permulaan dan urutan huruf-hurufnya, missal kata “قمر” hendaknya dicari pada
kata ق م ر , dan kata “شمس”
pada huruf ش م س dan seterusnya. Adapun apabila diantara
huruf-hurufnya terdapat huruf zaid (tambahan) maka lebih dahulu diketahui mana
huruf yang asli dan mana huruf yang tambahan. Setelah diketahui huruf-hurufnya,
maka mencarinya semisal seperti kata “كتاب”
dicari pada huruf ك ت ب dan kata “علوم”
pada huruf ع ل م dan seterusnya.
Kamus al-Munawwir ini, tak
hanya memberikan pengetahuan tentang arti dari kosa kata, tetapi juga
memberikan pengetahuan tentang ilmu shorof. Dalam kamus ini, dilengkapi
dengan tanda-tanda harakat apabila seseorang sedang mencari fi’il mudhari’
dari kata dasar yang dicari. Selain kata dasar dan fi’il mudhori’, juga
dilengkapi dengan masdarnya sekaligus. Hal itu mempermudah untuk mencari
makna kata yang dicari.
D.
Penutup
Demikianlah sedikit ulasan
tentang Kamus al-Munawwir dengan kemampuan terbatas yang ada pada diri kami.
Kami menyadari, bahwa tulisan ini masih jauh dari kata sempurna dalam proses
menuntut ilmu. Apabila ada pendapat kami
yang ternyata benar, maka itu semata-mata datangnya dari Allah dan semoga
menjadi tambahan amal di akhirat kelak. Namun, apabila ada pendapat kami yang
salah, maka semua itu karena kelemahan dan keterbatasan kami sebagai makhluk
yang dhoif dan hanya ampunan dari Allah yang kami harapkan. Semoga apa
yang kami tulis ini dapat bermanfaat bagi semua orang, khususnya penulis
sendiri.
By
: ‘Azzah Nurin T & Siti Rodliyah
Komentar