Sering Kontak=Pacaran
Cerpen
SERING
KONTAK = PACARAN??
Entah apa yang
kupikirkan? Tak tentu. Aku harus mengatakan apa sama abah tentang hubungan ini.
Aku juga tidak tahu apakah ini pacaran atau tidak? Huh, masalah ini membuat
pikiranku ruwet. Aku semakin tidak konsentrasi sama tugas yang harus aku
kerjakan. Daripada tidak kelar sekalian aku tutup saja laptopku.
Sinar matahari
mulai pudar, tak secerah tadi. Aku baru teringat kalau aku belum sholat ashar.
Secepatnya aku lari ke kamar mandi untuk mengambil air wudlu dan mengerjakan
sholat ashar. Hari-hari ini semakin berantakan. Memang sih, dari dulu abah
memang melarang keras putra-putrinya berpacaran. Tak terkecuali aku putri
bungsunya. Aku punya dua kakak laki-laki
yang sudah menikah, dan satu kakak perempuan yang masih kuliah di
Yogyakarta. Saudara-saudaraku keluaran dari pondok pesantren semua. Begitu pun
aku yang sekarang sudah kuliah semester satu di suatu perguruan tinggi swasta.
Aku sudah mengenal yang namanya pacaran mulai sejak SMP, soalnya teman-teman
SMP banyak yang cerita tentang perihal pacaran. Mungkin tak sedikit yang
menjalin ikatan pacaran. Tak ayal, saat aku masuk pondok pesantren pun ada saja
yang bercerita heboh tentang pacaran. Aku tak heran dengan semua itu, mungkin
inilah hidup di masa-masa remaja, apalagi jaman sekarang.
Aku mulai
hubungan ini sejak aku masuk kuliah. Awalnya aku bertemu dia saat pendaftaran
kuliah. Setelah kami mulai menjalani kuliah dan tergabung suatu organisasi,
kami mulai banyak diskusi dan ngobrol. Hari-hari kami jalani dengan biasa.
Hingga suatu ketika dia meneloponku, entah dari mana dia memperoleh nomer hpku,
tapi yang jelas semenjak itu pula aku terus kontak dengan dia. Mulai dari bahas
diskusi sampai menanyakakan “gi pa? Udah
makan belom?” dan sejenisnya. Dia cowok yang cerdas, lumayan tampan, dan yang
jelas aktif dalam perkuliahan maupun keorganisasian. Aku tak tahu dengan
perasaanku sendiri terhadapnya. Aku hanya merasa senang saja jika diskusi dan
ngobrol dengannya. Apalagi kalau dia memperhatikanku. Cewek memang suka
diperhatikan.
Saat aku masuk
kuliah, teman-teman suka julukin aku pacarnya si Dia. Soalnya mereka memang
sudah tahu kalau aku dekat sama Dia. Tapi aku selalu mengelak semua itu dengan
mengatakan kalau kita hanya berteman. Alhasil, aku tetap jadi bahan julukan
pacaran sama Dia. Memang sih, Dia termasuk cowok idola cewek-cewek di sini.
Jadi pantas saja kalau dia sering diperbincangkan.
Kita tak pernah
mengikat jalinan yang namanya pacaran, hanya saja kebiasaan kita katanya
layaknya orang pacaran. Sering kontak meski nanya-nanya yang tidak penting.
Masa gitu sih? Aku sering bertanya-tanya, memangnya kalau sering kontak harus
dinamai pacaran gitu? Bisa saja teman kan? Hemm, aku tak mengerti sama mereka
yang menganggap ini berlebihan.
Hingga suatu
hari, ketika hpku ku tinggal di meja ruang tamu. Dia meneloponku dan yang
mengangkat adalah ibuku. Aku tak tahu kalau ibu bicara banyak dengannya. Saat
aku mengetahui ibu mengangkat teleponku, segera aku menanyakannya dan telepon
sudah ditutup. Ibu hanya tersenyum melihatku, katanya telepon dari teman
dekatku. Aku sontak deg-degan takut ketahuan sering kontak dengan si Dia.
Ketika aku melihat daftar panggilan di hpku, hanya ada daftar nomor tak
diketahui, tapi aku yakin kalau Dia yang meneleponku.
Selang beberapa
menit abah memanggilku. Tak seperti biasanya abah menasehati aku seperti itu.
Masalah hubungan seorang laki-laki dan perempuan. Aku diam saja mendengar
pitutur abah kepadaku. Abah mengatakan kalau dalam Islam itu tidak ada yang
namanya pacaran, yang ada itu ta’arufan. Itupun dilakukan ada batas-batasnya.
Islam sangat mengajarkan etika tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan
yang bukan muhrim. Jadi tidak sembarangan bergaul. Aku masih diam, aku merasa
tidak pernah menjalian pacaran dengan siapapun. Kalaupun sama si Dia, aku hanya
sering kontak dan diskusi, apa itu dinamakan pacaran? Aku ingin mengatakannya
sama abah. Tapi abah masih melanjutkan pituturnya, aku hanya bisa tertunduk
malu.
Setelah selesai,
abah menyuruhku untuk siap-siap ikut sholat ashar berjama’ah. Aku masih
tertunduk lesu dan segera menuruti perintah abah. Aku harus mengatakannya pada
abah, aku tak ingin abah salah paham sama aku. Aku tak pernah berpacaran.
Namun, sepertinya keadaan tidak mendukungku untuk mengatakannya. Akhirnya
semenjak itu aku putuskan untuk tidak sering kontak dengan Dia. Aku sudah
jelaskan pada Dia apa yang terjadi. Dia hanya komentar kalau yang penting kita
tidak menjalin pacaran seperti umumnya. Kita hanya berteman. Tapi keputusanku
sudah bulat, meski aku sebenarnya berat memutuskannya, tapi aku harus tegas.
Dan sekarang aku harus fokus pada kuliah, aku tak ingin kuliahku terganggu hanya karena masalah ini. Sekian
S_R
16 Agustus 2014
Komentar