Perjuangan Sang Kakak



Cerpen
Perjuangan sang kakak
By : Sirodl

Embun pagi terasa sejuk dan menyegarkan, safira baru bangun jam setengah tujuh. Kak hanafi sengaja tidak membangunkan safira karena dia baru saja sembuh dari sakitnya. Kak hanafi sudah siap untuk berangkat sekolah, namun dia masih menunggu adiknya safira bangkit dari tempat tidurnya. Safira melihat jam dinding yang menempel di atas tempat tidurnya. Dia kaget karena belum siap-siap untuk sekolah, dia turun dari ranjangnya dan menghampiri kakaknya yang sedari tadi duduk di teras rumah sambil membaca buku. Safira melangkah lemas sambil menguap, kak hanafi tersenyum melihat tingkah adik kecilnya yang lucu. “kak hanafi belum berangkat”? tanya safira. “ belum dik, nunggu kamu bangun. Sekarang kamu udah bangun, kak hanafi pamit berangkat dulu ya!” jawab kak hanafi. “loh kok gak nunggu safira siap-siap sih kak? Safira kan mau berangkat sekolah.”safira terheran. “adik gak usah berangkat  sekolah dulu, kan baru aja sembuh. Safira istirahat saja di rumah sambil bermain boneka barbie”. Tutur kak hanafi bijak. “ ya udah, tapi kak hanafi nanti pulang sekolahnya yang cepat ya? Nanti kita main bersama”.ajak safira manja, “emmm, kak hanafi usahakan deh dik, soalnya kakak nanti harus ngerjain tugas dulu. Gak apa-apa ya?”balas kak hanafi. Safira manggut-manggut mengerti. Akhirnya kak hanafi berangkat dengan hati yang lega, karena pagi ini dia melihat adiknya bangun dengan sehat dan ceria.
Kak hanafi dan safira adalah kakak beradik dari keluarga yang dibilang miskin, ibunya meninggalkan mereka sejak safira berumur 2 tahun, sedangkan kak hanafi berumur 6 tahun. Ibunya meninggal karena sakit keras yang diderita. Sekarang safira sudah menginjak kelas dua SD, dan kak hanafi kelas enam SD. Sang ayah yang hanya kerja serabutan tak mampu mencukupi kebutuhan keduanya dengan baik, sang ayah yang kadang tak pulang selama berhari-hari membuat hidup kakak beradik itu semakin terpuruk. Namun, kak hanafi yang mempunyai jiwa kuat dan tegar membuat hidupnya bersama adiknya penuh perjuangan dan pengorbanan. Mereka berdua mendapatkan beasiswa untuk sekolah, makanya kak hanafi dan safira sangat bersemangat untuk belajar. Sepulang sekolah, mereka kerja di pasar untuk membantu membawakan belanjaan para pembeli, kadang mereka juga diminta untuk membantu para penjual di pasar untuk membantu mengisikan jajanan mereka ke toples atau plastik. Tak jarang mereka juga membantu membersihkan dan membereskan toko-toko para penjual. Dengan semua itu, mereka mendapat upah yang lumayan bagi seusia mereka dalam sehari. Setelah menjelang sore, mereka pulang dan istirahat. Malam hari mereka mengaji dan belajar. Seperti itulah keseharian kak hanafi dan safira, meskipun begitu keduanya tegar dan semangat jalani semuanya. Sang ayah yang hanya kadang seminggu sekali pulang dan memberi uang untuk kebutuhan keduanya tak membuat kak hanafi banyak menuntut sang ayah. Pernah suatu saat, kak hanafi bertanya pada ayahnya tentang kerjaan ayahnya dan meminta ayahnya untuk selalu di rumah. Malah membuat sang ayah marah dan menghardik kak hanafi, sang ayah hanya berkata bahwa ini demi kehidupan kak hanafi dan safira. Semenjak saat itu kak hanafi tak berani bertanya pada ayahnya. Karena kak hanafi dipasrahi sang ayah untuk mengurus sang adik, kak hanafi selalu menjalankan hal itu penuh kasih sayang dan tulus kepada adiknya. Dan itu berlangsung sampai kak hanafi kelas enam sekarang.
Suatu ketika, keduanya pulang sekolah dan menuju ke pasar sambil berbincang-bincang. Kak hanafi selalu menggandeng tangan safira kala mereka berjalan. “kak, tadi safira dapet nilai seratus loh ulangan metematikanya”. Bilang safira pada kakaknya. “o iya? Beneran gak nyontek kan?” tanya kak hanafi memastikan. “ya nggaklah kak, safira kan gak pernah nyontek. Kata kak hanafi kalau safira dapet nilai seratus ulangannya, mau dibeliin boneka barbie. nanti beliin safira boneka barbie ya kak? Kan safira udah dapet seratus.” Pinta safira manja. “iya iya nanti kak hanafi beliin deh, tapi kalau safira udah kakak beliin boneka barbie, harus tetep berusaha dapat nilai seratus ya?”pinta kak hanafi. Safira manggut-manggut mengerti dan bahagia karena sebentar lagi dia punya boneka barbie yang selalu ia idam-idamkan.
Sampai di pasar, mereka cepat-cepat menghampiri penjual-penjual untuk dibantu membawakan belanjaan. Setelah semua usai, mereka melangkah pulang. Di seberang jalan safira melihat boneka barbie yang cantik di pajang di sebuah toko, safira merengek menagih janji kakaknya untuk membelikannya boneka barbie. kak hanafi segera menuruti kemauan adiknya. Karena tempatnya di seberang jalan, dan jalanannya ramai sekali kendaraan. Kak hanafi memutuskan untuk membeli sendiri dan menyuruh safira menunggu di tepi jalan, Safira menurut saja. Kak hanafi menyeberang dengan hati-hati dan menuju ke toko penjual boneka. Safira girang karena kakaknya sudah sampai di toko penjual boneka. Sambil menunggu kakaknya, safira menyanyi-nyanyi dengan semangat. Karena padatnya kendaraan, ada sepeda motor yang melewati tepi jalan dan menyerepet tubuh kecil safira, safira jatuh dan kepalanya terbentur. Orang-orang yang ada di sekeliling jalanan itu panik dan ramai mengeremuni safira. Kak hanafi selesai membeli boneka dan menyeberang jalan, kak hanafi mencari safira dan tidak menemukannya. Ketika ada orang yang berteriak tentang anak kecil kecelakaan, kak hanafi langsung menghampiri kerumunan, dan ternyata yang dia lihat adalah tubuh adik kecilnya tergeletak tak berdaya. Kak hanafi langsung memeluk adiknya dan membopongnya untuk dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Kak hanafi bingung dan panik. Dia masih memegang boneka barbie yang ia beli dengan menangis dan terus berdoa untuk  keselamatan adiknya. Setelah satu jam di rumah sakit. Kak hanafi dan ditemani oleh orang yang telah menyerempet adiknya mengetahui keadaan safira. Safira dinyatakan gagar otak karena kerasnya benturan pada kepala safira, dan secepatnya harus dioperasi. Kak hanafi kaget bukan kepalang. Mana mungkin uangnya cukup untuk operasi. Sekalipun itu uang celengannya selama ini. Kak hanafi menangis sambil memeluk boneka barbie. namun, kak hanafi lega setelah mengetahui bahwa biaya operasi ditanggung oleh orang yang seharusnya bertanggung jawab. Dan akhirnya safira dioperasi.
Setelah kejadian itu, safira hampir satu bulan tidak masuk sekolah. Kak hanafi juga harus rajin-rajin merawat adiknya. Hingga belajarnya terganggu. Sang ayah pun lebih banyak di rumah saat safira sakit. Selang beberapa minggu, sang ayah kembali pergi dan baru pulang seminggu sekali. Kegiatan kak hanafi setelah pulang sekolah sekarang harus merawat adiknya safira. Karena kak hanafi merasa bersalah atas kecelakaan safira. Semua itu atas kalalaiannya sebagai kakak.
Pada suatu pagi yang menyegarkan, akhirnya sang kakak melihat adiknya bangun dengan sehat. sepulang sekolah kali ini kak hanafi harus menyelesaikan tugasnya, yaitu menebus obat lagi untuk safira. Karena obat yang harus ditebus juga tidak murah, kak hanafi harus memecah uang celengan hasil kerjanya selama ini. Safira yang sedari tadi menunggu kedatangan sang kakak sambil terus bermain boneka barbie mengantuk dan akhirnya tertidur. Sedangkan kak hanafi harus berjuang dapatkan uang tambahan untuk menebus obat safira kali ini, karena uang yang dibawa ternyata tidak cukup untuk menebusnya. Sekian.
S_R   24 Juli 2014

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia