penelitian



A.    Latar Belakang
Pembahasan tentang pelestarian alam tidak akan lepas dari pembahasan campur tangan manusia. Dalam hal ini erat kaitannya dengan manusia sebagai Khalifah di bumi. Khalifah dalam arti bahasa yaitu sesuatu yang menempati bagian belakang. Al-Qur’an telah menyebutkan beberapa ayatnya yang berkaitan dengan Khalifah, salah satu ayat tersebut tertuang dalam surah al-Baqarah, yaitu:
øŒÎ)ur tA$s% š/u Ïps3Í´¯»n=yJù=Ï9 ÎoTÎ) ×@Ïã%y` Îû ÇÚöF{$# ZpxÿÎ=yz ( (#þqä9$s% ã@yèøgrBr& $pkŽÏù `tB ßÅ¡øÿム$pkŽÏù à7Ïÿó¡our uä!$tBÏe$!$# ß`øtwUur ßxÎm7|¡çR x8ÏôJpt¿2 â¨Ïds)çRur y7s9 ( tA$s% þÎoTÎ) ãNn=ôãr& $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÌÉÈ  
30. ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Para Malaikat: "Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, Padahal Kami Senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(al-Baqarah/2:30)
Dalam buku Membumikan Al-Qur’an karya M. Quraish Shihab menyatakan sebagai berikut, “Arti kekhalifahan ada tiga unsur dalam pandangan al-Qur’an, yaitu: 1) Manusia (sendiri) yang dalam hal ini dinamai khalifah, 2) Alam raya, yang ditunjuk oleh ayat ke-21 Surah al-Baqarah sebagai bumi, 3) Hubungan manusia dengan alam dan segala isinya, termasuk dengan manusia (istikhlaf atau tugas-tugas kekhilafahan). Selanjutnya, hubungan manusia dengan alam khalifah dan mustakhlaf adalah hubungan sebagai pemelihara yang saling membutuhkan satu sama lain. Maka tugas manusia adalah memelihara dan memakmurkan alam ini. Orang beriman dan beramal saleh, yang melakukan perbaikan dijanjikan akan dapat menguasai dunia ini.”[1]
Pernyataan di atas menunjukkan bahwa peran manusia yang disebut sebagai khalifah adalah makhluk yang dipilih Allah untuk memelihara dan memakmurkan alam (bumi). Walaupun alam diciptakan Allah untuk kehidupan manusia, namun manusia tidak boleh semena-mena memperlakukan alam, karena alam merupakan fasilitas hidup manusia, sehingga manusia harus bisa memanfaatkan alam dengan segala isinya ini untuk disyukuri melalui memelihara dan memakmurkannya.
Mengapa manusia sangat penting dalam melestarikan alam? Alasannya banyak, diantaranya karena ketergantungan manusia pada alam. Pemeliharaan alam tidak terbatas pada fisiknya saja, namun juga penjagaan terhadap segala isinya atau makhluk Allah yang lain. Karena pada hakikatnya tidak ada kehidupan di dunia ini tanpa ketergantungan. Dalam hal ini manusia termasuk bagian dari alam itu sendiri. Bila terjadi gangguan luar biasa terhadap salah satunya, maka makhluk yang berada dalam lingkungan hidup tersebut akan ikut terganggu pula. Karena alam merupakan kesatuan dari berbagai makhluk Allah yang ada di bumi. Alam ini diciptakan seimbang, sebagaimana dalam ayat berikut:
uÚöF{$#ur $yg»tR÷ŠytB $uZøŠs)ø9r&ur $ygŠÏù zÓźuru $uZ÷Fu;/Rr&ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. &äóÓx« 5brãöq¨B ÇÊÒÈ  
19. dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.(al-Hijr/15:19)
Segala sesuatu telah diciptakan dengan seimbang, maka sudah tugas manusia sebagai makhluk paling sempurna penciptaannya untuk menciptakan keseimbangan alam ini. segala sesuatu yang ada di dunia ini adalah untuk kemaslahatan dan dalam rangka memenuhi hajat manusia. maka dari itu, alam merupakan sumber rezeki. Mengenai hal Allah berfirman :
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur tAtRr&ur šÆÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB ylt÷zr'sù ¾ÏmÎ/ z`ÏB ÏNºtyJ¨V9$# $]%øÍ öNä3©9 ( t¤yur ãNä3s9 šù=àÿø9$# y̍ôftGÏ9 Îû ̍óst7ø9$# ¾Ín̍øBr'Î/ ( t¤yur ãNä3s9 t»yg÷RF{$# ÇÌËÈ  
32. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezki untukmu; dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu, berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.(Ibrahim/14:32)
Ayat di atas menunjukkan kepada manusia untuk menyadari bahwa segala alam ini yang mengatur adalah Allah. Manusia di dunia yang memanfaatkan ciptaan Allah sebagai sumber rezeki dan bekal dalam hidupnya. Namun tidak hanya manusia, tapi juga makhluk lain.
Dengan berbagai penjelasan di atas, apakah manusia sudah menjalankan amanahnya sebagai khalifah? Apakah manusia sudah bertanggung jawab atas tugasnya? Apakah manusia sudah menyadari kedudukannya? Jawabannya adalah tidak semua, bahkan dilihat dari fakta keadaan alam sekarang, bisa dikatakan sebagian kecil manusia yang menyadari dan menjalankan tugasnya terhadap alam ini. sebagian besar mereka lalai dan semena-mena memperlakukan alam ini. Memang selama ini paradigma antroposentris menguasai cara pandang masyarakat, sehingga manusia mementingkan diri sendiri karena cara pandang ini menganggap bahwa manusia bukan bagian dari alam ini, yang senyatanya pandangan ini harus ditinggalkan. Manusia yang mengenal arti pentingnya alam dalam kehidupannya ia akan memperlakukannya dengan baik, hal ini akan membuat alam semakin memberikan manfaatnya pada manusia.
Banyak slogan yang dikeluarkan untuk menyadarkan manusia di belahan bumi agar bersifat efisien dalam hidup dan menggunakan hasil alam. Namun kerusakan alam dengan segala aspek yang berkaitan dengannya telah membahana. Seperti perubahan cuaca, pemanasan global, dan lainnnya yang disebabkan oleh gaya hidupyang konsumtif, boros, dan hedonis. Gaya hidup ini bukan hanya di negara maju, namun juga menjalar ke negara-negara berkembang dan miskin. Kita melihat bagaimana sebagian masyarakat memenuhi ambisinya dengan mengambil apa saja dari kekayaan alam ini, tanpa mengindahkan dampak dan akibat dari semua itu. Penebangan pohon secara illegal, perusakan area resapan, adalah contoh perbuatan manusia yang berdampak buruk pada diri dan alam.
Dalam sebuah wawancara oleh tim sebuah majalah dengan seniman Indonesia, Iwan Fals menyatakan, “Kita semua tahu, bumi semakin rusak tak karuan. Padahal kita khalifah di bumi. Coba kita renungkan, jadi pemimpin tapi buminya rusak, di mana tanggung jawab kita sebagai pemimpin?” dilanjutkan perkataannya, “Jadi intinya, kiata harus menjaga alam. Alam tidak bekerja sendiri, kalau bekerja sendiri ya seperti tsunami, longsor dan banjir. Kalau kita tidak bekerja menjaga keseimbangan alam, maka alam bekerja sendiri untuk mencari keseimbangannya, itu mungkin letak peran sebagai seorang khalifah.”[2]
Dengan adanya berbagai masalah yang dibuat oleh manusia itu sendiri, bagaimana caranya agar manusia dapat mengambil manfaat dari al-Qur’an, bagaimana surah atau ayat-ayat al-Qur’an dielaborasi sehingga bisa menjadi solusi seputar masalah alam. Dalam hal ini al-Qur’an telah mengisyaratkan tentang pelestarian alam, antara lain munculnya kerusakan di muka bumi, ini diisyaratkan dalam surah ar-Rum ayat 41. Selanjutnya manusia agar memiliki nalar Ibrah, hal ini diisyaratkan al-Qur’an surah ar-Rum ayat 42. Kemudian manusia agar tidak Israf (berlebihan), diisyaratkan dalam surah al-A’raf ayat 31. Tidak bermewah-mewah, karena alam yang harusnya dipelihara denagn baik dan seimbang, malah hanya diperlakukan semena-mena untuk menuruti hawa nafsu, dan dalam hal ini diisyaratkan dalam surah al-Isra’ ayat 16. Dan untuk yang terakhir yaitu tidak kemubaziran, diisyaratkan dalam surah al-Isra’ ayat 27.
Kerusakan alam saat ini sudah di ambang batas toleransi, al-Qur’an menyebut kerusakan sebanyak 50 kali (al-fasad). Kerusakan terjadi hasil ulah manusia sendiri yang disebabkan kerakusan, katamakan, hedonis dan kemubaziran. Perilaku menyimpang, ketidakteraturan, destruktif, dan hidup acuh tak acuh terhadap sesama makhluk Allah.
Kerusakan alam yang terjadi di satu wilayah akan memberikan dampak pada wilayah yang lain. Kerusakan alam di suatu daerah atau negara akan merusak daerah atau negara lainnya. Seperti ketika gunung es di bagian laut utara mencair, dampaknya membawa bencana di berbagai negara. Oleh karena itu, al-Qur’an sudah sangat jelas telah menyebutkan tugas manusia dalam melestarikan, mengurus, memanfaatkan alam sebaik mungkin. Amanah tersebut meliputi bumi dan segala isinya.













[1] Kementerian agama RI, Pelestarian Lingkungan Hidup (Tafsir AL-Qur’an Tematik), (Jakarta: PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012), h. 2.


[2] _ , Majalah Arwaniyyah/ edisi 11.2012, (Kudus:Mubarokatan Thoyyibah,2012),h. 107.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia