Aku Iri Pada Anak Kecil yang Meminta Topeng
Aku duduk di bangku pinggir jalan
Berdiam diri mengamati manusia yang berlalu lalang
Hingga mataku tertuju pada penjual topeng mainan di seberang
Penjual topeng yang ceria menawarkan dagangannya ke setiap orang tua dan anak kecil yang berjalan melewatinya
Namun, belum satu pun orang yang tertarik membelinya
Penjual topeng menghelas napas panjang
Mengusap satu per satu topeng mainan yang dipajang
dengan tatapan penuh harap ada yang menukarnya dengan uang
(Ah, apakah aku harus membeli topeng mainan itu untuk diriku?)
Tak berselang lama
Ada satu anak kecil mendekat ke penjual topeng itu
Ia bersemangat ingin meraih salah satu topeng yang terpajang
Tapi ibunya dengan cepat menarik lengan anak kecil itu untuk menjauh
Anak kecil itu merengek untuk dilepaskan
Ia bilang ingin topeng mainan itu
Sang Ibu tersenyum manis pada putrinya dan kemudian bilang bahwa masih banyak mainan di rumah
Anak kecil itu tak peduli perkataan ibunya. Ia menangis kencang karena merasa keinginan memiliki topeng mainan itu belum bisa terwujud
(Aih, andai saja aku bisa semudah itu menangis kencang hanya karena keinginan belum bisa terwujud)
Sang ibu menenangkan sang anak yang menangis meronta
Sang ibu sendiri mencoba tenang meski sorot matanya marah dan malu pada orang-orang yang menatapnya
Sang penjual topeng hanya bisa diam
Ia lantas menawarkan dagangannya ke orang-orang yang lalu lalang
(Dan aku, hanya bisa melihatnya)
Sang ibu tak berhenti membujuk putrinya dengan mengatakan bahwa mainan di rumah juga tak kalah bagus
Tapi anak kecil itu mengungkapkan, "aku sudah bosan dengan mainan lama."
(Aih, aku juga sudah bosan.
Dengan apa? Aku kan tak punya mainan)
Sang ibu menghela napas. Ia menyerah membujuk anaknya
Dan pada akhirnya, sang ibu membeli satu topeng mainan untuk anaknya
Sang penjual topeng tersenyum
Sang anak pun mengusap air matanya dan digantikan mata berbinar
(Aih, secepat itukah air mata sedih berganti binar mata bahagia?)
Aku masih melanjutkan diamku
Tapi terus berisik dalam kepalaku
Aku iri pada anak kecil yang meminta topeng itu
Anak kecil itu belum punya topeng orang dewasa sepertiku
Ia masih mudah merengek di depan ibu
Ia masih belum malu menangis di tempat umum
Ia tak enggan bilang sudah bosan
Ia berani menampakkan kegembiraannya meski baru saja mengusap air mata
(Ah, pantas saja ia tertarik topeng mainan)
Aku iri pada anak kecil yang meminta topeng
Dan ya aku tak perlu membeli topeng mainan itu
Untuk apa?
Sedangkan aku sudah membawanya ke mana-mana
Bahkan dalam diamku sekarang
Bumi, 24 Juli 2026
Tulisan ini termasuk bagian dari Writing Challenge Meja Sajak. Tema untuk Juli adalah Topeng. Karya ini juga bisa dilihat dalam Zine kumpulan karya penulis Meja Sajak:
Komentar