Senyum Itu Membuat Cantik

 

Perempuan mana yang tak ingin merasa cantik dan dibilang cantik. Terlepas dari definisi cantik itu relatif untuk masing-masing orang. Terlepas juga dari standar kecantikan dari masyarakat tertentu.

Selepas dari mengajar, saya dan beberapa kawan guru ngobrol santai sambil makan siang di ruang istirahat guru. Saya mengomentari salah satu teman saya yang terlihat cantik dengan gaya kerudung barunya. Dia tersenyum sambil tersipu malu dan menjelaskan bahwa hari itu dia memberanikan diri untuk memakai kerudung barunya karena ingin mencoba hal baru. Wajah temanku polos tanpa polesan make up. Tapi saya dan kawanku yang lain sepakat bahwa temanku itu terlihat cantik dengan gaya kerudungnya yang baru ditambah terlihat sering tersenyum.

Saya dikomentari balik oleh teman saya. Dia bilang suka melihat saya saat siang itu karena lebih banyak tersenyum dibanding pagi hari kala itu. Katanya saya terlihat lebih cantik siang itu padahal bedak di wajah sudah luntur alias hilang dan bibir sudah tampak pucat karena warna lipstik sudah tak berbekas. Saya menyangkal komentar teman saya. Tapi saya tadi pagi merasa cantik karena memakai lipstik baru yang aku suka warnanya. Namun memang ada hal yang membuat mood sedikit tak menyenangkan saat itu. Tapi temanku bilang, apa gunanya lipstik yang membuat tampak cantik namun tak ada senyum di bibir. Kami seketika tertawa mendengar itu. Haha

Di lain kesempatan, saat saya berinteraksi dengan salah satu temanku yang biasa ber make up, dia tampak murung. Karena memang ada masalah. Tapi saya jadi teringat dengan komentar temanku yang kemudian saya berpikir meski wajah ber make up membuat tampak menarik, tapi tetap saja senyum yang membuat tampak lebih cantik. Tapi saya tidak menghakimi teman saya, justru di situ saya ajak ngobrol dan saya membuka diri jika ada hal yang ingin diceritakan tentang dirinya. Dan tenyata dia sebenarnya sedang sakit.

Kita memang tidak mudah memaksakan diri untuk tersenyum. Apalagi dalam kondisi seperti sedang sakit, galau, sedih, marah, kecewa, dan alasan lain. Senyum identik dengan bentuk ekspresi perasaan senang atau gembira. Tapi ketika kita tersenyum, saya akui itu membuat diri lebih terasa bahagia dan ya cantik. Orang yang melihat diri kita saat tersenyum pun, lebih tertarik berinteraksi dengan kita.

Ada banyak artikel yang menjelaskan tentang manfaat senyum. Baik dari segi kesehatan fisik, psikologis, dan emosional. Dalam salah satu artikel yang saya  baca, ada tiga jenis senyum yang bisa kita biasakan dalam kehidupan sehari-hari. Senyum tulus (yang keluar murni dari hati), senyum sopan (bentuk keramahan dan keterbukaan), dan senyum sadar (dipaksakan).

Saya yakin banyak dari kita pernah melakukan tiga jenis senyum itu. bahkan saya sering melakukan senyum yang dipaksakan meski suasana hati sedang tidak baik-baik saja. Apalagi profesi saya sebagai guru, saya harus pandai mengelola suasana hati di hadapan murid-murid supaya pembelajaran tetap berjalan efektif.

Senyum memang sederhana, tapi saya menyadari bahwa senyum juga hal penting untuk merawat diri secara fisik maupun mental. Dari obrolan dengan teman saya, saya jadi belajar bahwa yang perlu kita usahakan tidak hanya soal cantik di wajah dengan bedak dan lipstik , tapi juga rasa bahagia, respek, keterbukaan, dan kesadaran penuh agar kita mudah tersenyum untuk kesejahteraan diri kita dan menumbuhkan interaksi yang baik dengan orang lain.  Bahkan, dengan senyum juga sudah terhitung sedekah, bukan?

 Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Berharganya Perempuan Diberi Kesempatan Memilih

Mimpi Bukan Kata Benda Tapi Kata Kerja