Membeli Bensin Vs Membeli Waktu

 

Waktu Adalah Uang, Ternyata Itu Soal Prioritas dan Manajemen Waktu

 

Matahari tampak sudah tinggi. Cahayanya sudah terasa menyengat di kulit. Jam dinding menunjukkan pukul 06.55 WIB. Pikiran saya yang semula tenang menjadi tidak tenang. Perasaan saya gugup karena saya menyadari akan terlambat sampai sekolah jika saya tidak bergegas. Tanpa pikir panjang saya menyalakan sepeda motor untuk segera berangkat. Ketika saya melihat jarum indikator bensin yang akan menyentuh huruf E, saya menghela nafas untuk semakin menenangkan pikiran dan perasaan saya.

Saya mantap berdoa sebelum berangkat. Di sepanjang jalan, saya resah melihat indikator bensin motor yang semakin menyentuh huruf E. Dalam hati saya terus bergumam untuk segera sampai di pom bensin sambil menyetir dengan kecepatan yang stabil.

Sesampai di pom bensin terdekat. Saya kembali menghela nafas melihat tidak ada pegawai pom bensin yang berjaga karena ganti shift. Akhirnya saya bergegas melanjutkan perjalanan untuk menuju pom bensin terdekat yang ke dua. Sesampainya di sana, antrian bensin jenis pertalite mengular panjang. Sedangkan antrian bensin jenis pertamax tidak panjang. Saya tim pengguna pertalite, meski kadang menggunakan pertamax. Rasanya ingin membeli pertalite saja untuk berhemat, tapi situasi yang mepet membuat saya harus mengantri isi bensin jenis pertamax agar tidak terlambat sampai sekolah. Dan ketika perasaan sudah lega sampai di pom bensin, tiba-tiba ada sistem eror yang membuat semua antrian bubar tidak jadi isi bensin.

Saya semakin panik. Saya pasrah jika pada akhirnya terlambat. Tapi saya malu jika saya terlambat dengan alasan kehabisan bensin di jalan. Alasan yang menunjukkan bahwa manajemen waktu saya tidak baik. Andai saja saya lebih pagi berangkat dengan tahu kondisi bensin akan habis, saya bisa leluasa mengantri isi bensin.

Akhirnya dengan perasaan ketar ketir, saya tetap optimis melanjutkan perjalanan dan mencari bensin eceran terdekat. Setelah mendapatkannya, saya harus membayar harga bensin pertalite yang sedikit lebih mahal dibanding pertamax di pom bensin. Tapi saya berdamai, karena saat itu dalam situasi darurat dan saya harus membayar mahal untuk itu.

Malam harinya ketika saya beristirahat dari rutinitas. Saya merefleksikan peristiwa pagi hari saya. Saya tidak ingin mengulanginya lagi atau jangan sampai sering terjadi. Saya menyadari bahwa manajemen waktu saya kala itu kurang baik. Saya mengerjakan tugas di pagi hari sampai bablas hingga waktu berangkat mepet. Ditambah tidak mengecek indikator bensin sebelumnya.

Dan rasanya pas sekali saat saya membuka media sosial, saya menemukan postingan dengan caption membeli bensin vs membeli waktu. Dalam postingan itu arah pembahasannya menyorot ke ekonomi. Tapi di sini saya tidak ingin membahas soal fenomena ekonomi masyarakat yang lebih banyak memilih membeli bensin jenis  pertalite meski harus rela mengantri panjang. Karena menurutku itu soal prioritas kebutuhan masing-masing individu.

Saya menyadari satu pelajaran penting dari pengalaman yang saya ceritakan di atas bahwa waktu adalah uang itu nyata. Mungkin saya akan mendapatkan kesempatan membeli bensin yang biasa saya gunakan saat saya bisa berangkat lebih pagi sehingga tidak terdesak dalam situasi darurat. Atau saya mengatur waktu mengisi bensin di lain waktu, tidak saat berangkat kerja. Itu akan lebih memberikan rasa aman pada diri saat melakukan perjalanan.

Saya juga belajar bahwa bagaimana priotitas dan manajemen waktu kita akan mempengaruhi seberapa pengeluaran kita. Semakin baik manajemen waktu kita, semakin memberikan rasa aman dan nyaman saat kita melakukan perjalanan.


Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga ada hal yang menginspirasi.

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Berharganya Perempuan Diberi Kesempatan Memilih

Mimpi Bukan Kata Benda Tapi Kata Kerja