Ada Yang Kurang Tepat dengan Manajemen Emosiku

 


Ada yang kurang tepat dengan manajemen emosi(ku)


Hari minggu yang sepertinya santai saja, ternyata banyak agenda yang butuh persiapan lebih. Namun akunya justru memilih tidak mempersiapkan lebih awal dengan pembelaan diri _menenangkan dan menyenangkan diri_. 


Aku berpikir aku bisa mengatasinya saat datang hari itu, nyatanya aku _ewoh_ sendiri saat tahu agenda2 ringan seperti menjadi moderator diskusi online butuh banyak hal2 yang dipersiapkan di awal. 


Hari minggu pagi di sekolah, aku harus menyelesaikan sharing pelatihan online tentang _manajemen emosi guru merdeka belajar_ yang aku ikuti programnya dan tuntas. 

Secara teknis, lancar jaya acaranya. Tapi dibalik itu, aku berperang dengan emosi khawatirku sendiri, karena ekspektasi tinggi dan jatuhnya menuntut untuk selesai. 


Aku mencoba redamkan emosi khawatir berlebih itu dengan mencairkan suasana guyon di tengah sesi sharing. Namun ekspresi dan gesturku tak bisa diajak kompromi. Aku tak bisa memanipulasi emosi itu sendiri. 


Aku tahu kalau itu emosi khawatir karena aku mencoba praktik gimana _mengidentifikasi emosi_, teori yang aku tahu dan aku sharingkan ke teman2 guru lain. 


Teori itu sangat membantuku, namun praktiknya memang tak semudah merangkai kata2 untuk membahasnya. 


_Mengelola emosi dominan_ memang butuh effort yang lebih. Aku sudah jatuh bangun mengontrol diri untuk mengelolanya hari itu, dan alhasil masih tetap _kemrungsung_. Aku bertanya, apa ada yang kurang tepat lagi? Bagian mana? 


Aku loss dol aja akhirnya. Membiarkan emosi dominanku saat itu bergerak, memgalir dan tak kubendung. 


Tapi ternyata hal itu membuatku terkejut akibatnya. Aku kemudian mengambil sikap yang lebay ke timku saat mengingatkan untuk aktif mengikuti program guru seperti ini ( kesannya maksa). Padahal aku tahu tujuannya yang seharusnya adalah mengajak berdaya. 


Rumit ternyata emosi manusia ini, dan semakin kompleks saat berada dalam situasi dan orang tertentu. Saya ingat dengan buku yang sedang saya baca, Arah Musim. 


Beruntung saya berada di lingkungan yang positif, aku merasa tak mampu mengatasi emosiku sendiri meski sudah cari cara yang saya bisa. Saya memutuskan untuk meminta bantuan kawan guru lain. Dan dapat pengingat, "ekspektasi yang harus kamu atur, karena itu besar kemungkinan yang mempengaruhi emosi dan sikap yang kamu ambil". Begitulah.


Saya membiarkan hariku berjalan, dan sampai waktu menyembuhkannya sendiri, dan aku berefleksi untuk esok hari. 


Bulu-Bancar, 27 September 2020

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia