Hanya Lontaran Kata, Timbulkan Konflik.

 




Sebuah lontaran kata yang membuat anak berkonflik dengan temannya


Saat tatap muka bersama anak2 di sekolah, rasanya butuh lebih menyiapkan diri daripada saat daring yang banyak komunikasi dengan orang tua. 


Saat tatap muka di sekolah bersama anak2, pagi seusai berdoa, guru2 biasanya melakukan percakapan pagi dengan melingkar kecil, percakapan pagi  kami membahas apapun yang urgen dan antar anak bisa sharing pengetahuan atau pengalaman sesuai topik yang diangkat. Waktu itu kami mengangkat topik sesuai konteks pembelajaran hari itu,

tentang arti saling menyayangi sesama saudara dan teman.


 Tatap muka saat pandemi, susahnya harus bercakap2 di balik masker. Tapi kalau anak2,  masker ya lepas pakai lepas pakai😅. Guru menjadi alarm  anak2 untuk pake masker di saat seperti ini jadi nggak kalah penting.


Saat saya tanya anak2 kelas 1 SD tentang contoh sikap saling menyayangi menurut mereka apa, banyak yang menjawab 'tidak bertengkar, tidak mengejek, dipeluk dan dicium orang tua, bersikap santun', dll. 

Bahkan ada yang bilang, kalau keluarga saling menyayangi, dan ada orangtua yang terlalu menyayangi😁


Saya ga ingin panjang kali lebar menceritakan pengalaman percakapan bersama anak2. 


Setelah percakapan tersebut, saya mengamati anak2. Saat persiapan kegiatan sholat, sebut saja namanya si A, si A  mengatakan sajadahnya si B kecil dengan nada agak _ngece_. 

Kemudian saya masih mengamati mereka, saya pikir saat itu tak akan terjadi apa2. Namun, setelah pandangan saya teralihkan yang lain. Si A dan si B posisi sedang saling memukul. 


Sontak saya menghampiri mereka dan melerai. Sorot si A begitu marah dengan si B. Si B menahan air mata tumpah. 


Akhirnya saya mencoba dudukkan mereka dan bicara pelan untuk menanyakan apa yang terjadi. Si B cerita kalau dipukul si A. Si A juga bilang dipukul si B dulu. Saya tarik napas, perlahan saya tanya mereka lagi apa awal yang menyebabkan saling memukul? Siapa yang memukul duluan? 


Akhirnya si A bicara kalau si B dulu yang memukul. Saya konfirmasi ke Si B, dan si B bilang kalau dia memukul dulu karena g suka dikatain sajadahnya kecil. 


Kemudian saya menyimpulkan kalau penyebab utama saling memukul adalah komentar si A yang kurang membuat nyaman si B sehingga si B mengambil sikap yang sedikit keras karena merasa diejek. 


Saya ingin membicarakan lanjut masalah itu, namun si A terlihat terganggu dan menolak ajakan saya untuk membicarakan permasalahannya. Tapi saya mencoba bersikukuh melanjutkan untuk bicara. Meski si A membuang muka pada saya. Saya terus membujuk dia untuk  diselesaikan baik2 permasalahannya. Namun dia tetap membuang muka. Akhirnya saya mengajak bicara dengan si B sambil berdekatan dengan si A ( Saya yakin si A mendengar percakapan saya dengan si B). 


Si B tahu dan sadar memukul duluan, tapi itu karena dia sakit hati dikatain. Karena sampe akhir pertemuan si A tidak mau bicara, namun saya mencoba untuk mengarahkan mereka saling bermaaf-maafan dan mengambil pelajaran, kalau mengomentari orang lain bisa dijaga perkataannya, yang membuat orang lain nyaman. Karena kalau tidak, akibatnya seperti yang terjadi saat itu pada mereka, yaitu saling bertengkar dengan memukul. 


Saat mau pulang, saya coba ingatkan anak2 lagi tentang percakapan pagi tentang saling menyayangi sesama teman. Saya lebih spesifik lagi memancing pertanyaan tentang contoh sikap saling menyayangi, yaitu salah satunya tidak bertengkar. Akhirnya saya tarik untuk merefleksikan peristiwa si A dan si B yang tadinya bertengkar. Meski si A masih bungkam dan memilih guyonan dengan teman disampingnya. 


Saat waktu pulang, saya melihat si A dan si B sudah tidak canggung lagi dan berjalan berdampingan tanpa ada tatapan benci satu sama lain. 


Duh, peristiwa anak2 yang kuceritakan tadi sungguh juga pelajaran bagi saya, orang dewasa. Bahwa sebuah 'kata' pun bisa berakibat fatal saat dilontarkan dengan kurang tepat hingga menimbulkan sakit hati. 


Sebagian orang mungkin membicarakan masalah dan kemudian merefleksikannya juga tak mudah. Lantas, memilih untuk menghindar. 


Namun bedanya anak2 sama orang dewasa, anak2 cepat pulih hatinya dan kembali berbaikan. Sedangkan orang dewasa, mungkin butuh waktu yang lebih untuk kembali berbaikan. 


Sarang, Sekolah Islam Umar Harun☺️

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan Teman dan Klub Baca Buku

Agustusan Tidak Sekedar Lomba

Cita-Cita Tak Pernah Mempersoalkan Usia