Mengendarai Motor
Belajar dari Peristiwa Mengendarai Motor
Awal saat aku memutuskan untuk berangkat ke sekolah dari rumah dengan mengendarai motor rasanya terus deg-deg-an dan takut. Gimana tidak? Aku benar-benar modal nekad untuk berani mengendarai motor di jalan raya yang belum terbiasa.
Rasa takut terus menyelimuti hatiku setiap kali akan berangkat ke sekolah dan pulang ke rumah. Pikiran dan perasaan berkecamuk, gimana nanti aku mengendarai motor di jalan raya? Gimana kalau ada truk-truk besar dan bus saling menyalip? Kalau aku jatuh bagaimana? Adakah yang menolong?
Banyak pikiran buruk berkelebat di kepalaku.
Namun, aku terus berpikir, kalau aku terus takut seperti ini, kapan aku bisa melaju dan maju. Aku mencoba untuk terus menyingkirkan pikiran buruk dan berusaha berpikir positif sambil terus belajar dari kakakku untuk mengendarai motor dengan baik.
Di minggu-minggu pertama mengendarai motor, aku mencoba untuk tenang dan fokus. Tak kulupakan doa-doa sebelum dan sedang melaju. Aku terfokus pada jalan yang di depanku. Pelan namun pasti aku bisa melalui sepanjang jalan raya dari rumahku sampai sekolah. Namun adakalanya aku sedikit tegang dan ragu, yang akhirnya berimbas pada ketidakstabilan menyetir ( sempat oleng). Wah, dari sini aku belajar, bahwa ketenangan serta kemantapan hati dan pikiran saat berkendara merupakan hal penting untuk keselamatan perjalanan.
Seiring waktu, aku mencoba memberanikan diri untuk mempercepat laju namun tetap aman. Saat akan menyalip dari kendaraan yang ada di depan, penting untuk melihat situasi kendaraan di belakang lewat spion. Ya, di situ aku belajar bahwa untuk melangkah jauh ke depan perlu melihat ke belakang. Supaya tetap melaju tepat sasaran dan aman.
Pernah suatu hari dalam perjalanan mengendarai motor, di petang hari aku terjebak hujan deras. Rasa was-was dan takut semakin menyelimuti hati dan pikiranku. Bagaimana ini? Pandanganku kabur. Akhirnya aku menepi dan berteduh di depan rumah yang sepertinya tak berpenghuni. Bayangkan, rasa takutku semakin menjadi. Doa keselamatan tak henti kulantunkan dalam hati.
Aku mencoba menghubungi kakakku, namun tak diangkat. Akhirnya aku mencoba chatting dengan kawan-kawan guru untuk menghalau rasa takutku. Syukur banyak respon menenangkan dan mendoakanku dari kawan-kawan guru.
Sejenak hujan mulai reda. Aku ragu antara kembali ke Sarang, daerah tempat sekolahku ( dan mampir ke rumah teman) atau tetap melaju untuk pulang.
Namun aku mantap dan beranikan diri untuk tetap melaju pelan dan pulang ke rumah sambil membayangkan bertemu keluarga lagi.
Ah, dari situ aku belajar, untuk memulai sesuatu yang belum pernah memang adakalanya menakutkan. Namun tinggal kita, rasa takut itu mau dibiarkan sehingga membuat kita mundur dan berhenti untuk melangkah maju, atau dikelola dan berusaha diatasi hingga tetap yakin melangkah maju.
Dewasa ini, aku semakin mengerti, bahwa belajar dari peristiwa memang berharga, jika kita mau memaknainya.
Sekian.

Komentar