Bincang Buku Tak Pernah Sia-Sia
Perjalanan Merawat Literasi di Sekitar
“Alasan mengapa buku bukanlah yang terpenting, melainkan kalimat yang ada di dalamnya.”
Itu kutipan dari buku yang berjudul Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku Inginkan karya Jeon Seunghwan yang saya baca untuk membuka pertemuan bincang buku dua hari yang lalu. Bincang buku bersama klub baca yang saya inisiasi bersama kawan-kawan untuk menumbuhkan kembali semangat membaca buku di lingkungan sekitar kami.
Pada suatu siang yang tidak terlalu terik, tiga perempuan termasuk saya bergerak pelan ke tempat teduh gazebo, ada yang sambil mengisi perut untuk makan siang, ada yang membuka camilan, dan saya menawarkan diri untuk membacakan kalimat demi kalimat buku yang saya bawa. Tak seperti biasanya, pertemuan ini terasa berjalan alami sebagaimana kita tak sengaja bertemu dan nongkrong sambil makan, hanya saja saya menawarkan diri untuk membacakan buku untuk mengajak dua teman saya yang hadir menyadari bahwa pertemuan ini untuk membicarakan buku.
Dua teman saya dengan senang hati menyimak saya membaca buku dengan suara keras, ketika saya berhenti membaca pada kalimat,
“Jika saya bertemu dengan kalimat yang indah, perasaan saya akan tersentuh. Penyebabnya jelas: karena hal itu bisa menggugah lubuk hati yang paling dalam dan mengubah jalan hidup seseorang.”
saya kemudian melontarkan tanya pada dua teman yang menyimak saya, “apakah kalian pernah saat membaca buku kemudian menemukan kalimat yang menggugah kalian?”
Serempak mereka menjawab, "pernah dong.”
Saya tersenyum, dan ketika saya berhenti membaca, kami bertiga lanjut mengobrol tentang bagaimana naik turunnya diri supaya tetap membaca buku meski berat untuk memulainya.
Saya membagikan cerita tentang diriku yang senang baca buku karena hobi, karena bisa mengusir sepi, dan ya karena senang bisa membaca dan mengajak yang lain supaya kesenangan ini tidak berhenti di diri saya. Tapi juga teman-teman saya.
Sepanjang obrolan, kami menyadari manfaat dan kebermaknaan membaca buku. Tapi ada hal yang kadang membuat kita enggan memulainya, kita berpikir harus menyelesaikannya. Padahal membaca buku, bukan berarti harus menyelesaikannya sekaligus. Membaca buku terasa bermakna justru saat kita menemukan topik yang relevan dengan kehidupan dan menemukan kalimat-kalimat di dalamnya yang menggugah.
Tentu tak semua genre buku berlaku sama. Tapi setidaknya, kita mau memulainya dengan satu kalimat pun, itu sudah cukup untuk kembali membaca buku.
Di tengah asyiknya mengobrol, satu teman saya harus pulang lebih awal karena ada urusan penting lain. Tapi ia menyempatkan diri untuk berbagi pengalamannya sedang membaca buku yang ia butuhkan untuk menjawab tantangan menghadapi perilaku murid-muridnya.
Kadang kita merasa tak cukup rajin membaca buku karena membaca saat merasa butuh saja. Padahal justru di situlah letak kebermaknaannya. Kita tahu kita butuh sesuatu, dan kita memilih untuk membaca buku untuk menjawab kebutuhan kita.
Satu teman pulang, satu teman datang. Pertemuan bincang buku ini tidak benar-benar berdua atau berempat, tapi bertiga. Haha
Saat bertiga kembali, kami memutuskan untuk membaca hening sambil menikmati semilir angin siang dan teduhnya pohon kelapa dekat gazebo.
Setelah kami memyadari waktu beranjak sore, kami putuskan untuk berbagi apa yang baru saja kami baca. Saat membicarakan tentang buku yang berjudul Cita untuk Perempuan yang Tidak Sempurna karya Najelaa shihab, satu teman saya berbagi pengalamannya yang relevan dengan apa yang telah ia baca. Tentang dinamika menjadi perempuan. Tentang bagaimana ia harus bergelut dengan perannya sebagai menantu. Tapi di situ kami menyimpulkan bahwa apapun peran perempuan, selalu bisa berdaya. Salah satu caranya dengan membaca buku.
Saat membicarakan tentang buku yang berjudul Seni Merayu Tuhan karya Husein Ja’far, satu teman saya berbagi inspirasi dari kalimat yang menyentuh ia, kalimat persembahan buku yang ditujukan pada orang-orang terkasih dengan membacakan surah Al-Fatihah pada mereka.
Kadang, bentuk kasih sayang kita memang tercurah saat kita diam-diam mendoakan dan mengirimkan kado al-Fatihah pada orang-orang terkasih.
Bahkan, kalimat pembuka pun bisa menginspirasi jika kita mau benar-benar membaca.
Dan terakhir, sebelum kami bertiga benar-benar mengakhiri bincang buku dan berpisah. Kami hanya bisa membekukan momen dengan foto buku yang kami sapa dan baca.
Mungkin kurang estetik fotonya, tapi cukup menjadi bukti bahwa pertemuan bincang buku ini tak pernah sia-sia. Bahwa pertemuan ini adalah bagian dari perjalanan merawat literasi, menjadi ruang aman dan nyaman untuk berbagi.


Komentar