Ketika Membaca Buku Membuat Diriku Pulih
Tak bisa kita selalu berharap semua hari berjalan sesuai rencana kita. Berjalan mulus dan nyaman tanpa rintangan. Selalu berjalan damai tanpa gangguan. Semakin berusaha berharap hidup terus lurus saja, semakin rasanya sakit ketika menghadapi situasi yang tidak sesuai ekspektasi.
Perjalanan
bulan Mei ini sungguh membuatku banyak belajar untuk menyadari hal penting
dalam hidup ini. Aku harus berlatih menerima dan menghadapi situasi di luar
rencana dan kendali diri, situasi yang membuat diri ini lelah, bingung, ragu, cemas,
dan merasa bersalah. Di saat yang sama aku harus berani mengambil keputusan untuk
kelanjutan pekerjaanku dengan pilihan-pilihan yang memiliki resikonya
masing-masing.
Tubuhku
menyalakan alarm untuk istirahat total. Aku tak ingin melawannya meski banyak
tugas yang belum selesai. Berhari-hari setiap malam aku mencoba untuk tenang
dan merilekskan tubuh supaya cepat pulih. Tapi pikiran sama sekali tak mau berkompromi.
Dia terus berputar dan berisik. Aku berulangkali mempraktikkan be mindful, yang biasanya ketika aku
mempraktikkannya, pikiranku cenderung
lebih tenang. Namun saat itu hanya berhasil beberapa saat, dan pikiran kembali
berisik tanpa mengizinkanku untuk tidur nyenyak. Itu semakin memperparah
kondisi tubuhku yang seharusnya butuh istirahat total untuk pulih.
Dalam
situasi seperti itu, aku pasrah. Aku tak melawan ributnya pikiran. Aku biarkan di
dalam kepalaku ramai berjejal mengingat kejadian-kejadian yang membuatku sesak.
Dalam situasi itu, tiba-tiba aku terisak. Tumpah air mata. Aku sengaja tak
mengusapnya, aku biarkan dia membasahi wajah sambil kupeluk diriku yang merasakan
sakit di sekujur tubuh. Dan aku berbisik pelan dalam hatiku, ‘ya Allah, aku
lelah’. Hingga akhirnya aku terlelap dalam tidur.
Saat pagi
menyapa, aku bangun. Bangun dalam kondisi tubuh yang masih belum pulih. Aku tak
melakukan aktivitas seperti biasanya. Aku memutuskan istirahat di atas kasur
sepanjang hari. Namun aku mulai diserang bosan. Dan saat aku menengok tumpukan
buku di meja, aku ingat pada satu buku yang belum selesai aku baca. Aku ingat
ada banyak tulisan di buku itu yang ketika aku membacanya, aku seperti membaca
diri.
Aku buka
halaman demi halaman buku yang berjudul “Ketika Aku Tak Tahu Apa yang Aku
Inginkan” karya Jeon Seunghwan. Aku mengalir membaca setiap kalimat dalam buku
itu. Selama membaca buku itu, aku terus menganggukkan kepalaku, mengiyakan
setiap pernyataannya, menepuk dada, dan memeluk diri karena melihat ada bagian-bagian
kehidupanku di dalam kisah sang penulis. Aku seperti membaca diriku.
Aku jadi
teringat sebuah postingan di Instagram yang menyampaikan tentang membaca buku
membaca diri. Semakin dewasa, sebagai pembaca buku aku menyadari bahwa membaca
buku bukan sekedar soal mendapatkan pengetahuan atau wawasan. Membaca buku bisa
menjadi salah satu jalan pemulihan diri. Karena buku yang tepat menjawab
kebutuhan diri kita, justru membuat kita reflektif. Membuat kita memahami
setiap isi halaman menjadi sebuah perjalanan memahami diri sendiri. Setiap kali
membuka lembar demi lembar buku dan menelusuri kata demi kata, kita sedang
membuka lembaran-lembaran diri kita. Saat membaca buku, aku justru merasa
dipahami dan rasanya ada ruang jeda untuk pikiran dan hati. Jeda dari segala
hal yang membuat rumit sendiri pikiranku. Aku semakin merasa tidak sendiri menghadapi
situasi seperti ini. Dan perlahan, aku mendengarkan suara diriku untuk menerima
segala yang terjadi. Buku yang kubaca memang tidak langsung memberikan jawaban
aku untuk segera pulih, tapi perlahan ia mengarahkan aku untuk kembali bangkit
dan semangat untuk kembali pulih.
Ini salah
satu kutipan dari buku yang aku baca, yang perlahan membuatku bangkit untuk
semangat pulih;
Kita hanya bisa hidup sekali.
Itulah alasan kita agar hidup penuh keberanian.
Kita tidak hidup di kehidupan orang lain Selagi kita masih bisa hidup, kita harus menantang diri sendiri lebih keras lagi.
Meskipun kita kalah atau gagal, itu tak mengapa Karena keberhasilan tersembunyi di balik kegagalan
Jika kita tidak berani menantang diri, Kita tak akan gagal ataupun berhasil.
Keberanian memberi kita banyak kesempatan mewujudkan mimpi dan cinta, memperbaiki kesalahan, dan memulihkan hubungan Keberanian juga menumbuhkan kepercayaan diri dan kekuatan.
Terima
kasih sudah membaca tulisan ini. Semoga menginspirasi.
Komentar