Cara Sederhana Merayakan Iduladha bersama Keluarga
Dokumentasi pribadi
Takbir
bergema sepanjang malam. Ramai namun menenangkan. Rasanya masih tak menyangka
bahwa di tengah hari-hari aktif bekerja ada momen hari raya. Padahal setiap
tahun selalu ada, saya menyadari itu. Dan yang membuat saya merasa bahagia,
Iduladha menjadi momen berbeda untuk jeda dari rutinitas.
Waktu pagi
adalah waktu favorit saya untuk menata ulang hati dan pikiran. Gema takbir
masih ramai terdengar. Dan serasa pagi yang istimewa, suara-suara cicitan
burung yang biasanya menggema sendiri, saat itu bersahutan dengan takbir yang
dikumandangkan dari pengeras-pengeras suara. Merdu. Pagi yang biasanya saya dibuat
bergegas untuk salat subuh, dzikir, mengaji, dan setelah itu persiapan untuk
berangkat mengajar. Pagi tadi saya bangun lebih pelan untuk melakukan aktivitas
pagi. Saya dan keluarga berangkat ke masjid untuk melakukan salat Iduladha
berjamaah.
Saat saya
dan keluarga berjalan menuju ke masjid, kendaraan masih banyak yang lalu
lalang. Sepertinya meski tanggal merah, masih ada yang tidak libur bekerja. Namun
warga desa saya banyak yang melakukan salat Iduladha sebagaimana salat
Idulfitri.
Seusai
salat Id, masing-masing anggota keluarga melakukan aktivitas seperti biasa. Karena
saya libur mengajar, saya membantu bersih-bersih rumah. Keluarga saya tidak ada
yang ikut berkurban, namun kakak saya ikut menjadi panitia penyembelihan hewan
di tempatnya bekerja. Saat menjelang siang, kakak saya pulang dengan membawa
banyak daging kambing.
Tidak seperti
momen hari raya Idulfitri, hari raya Iduladha terasa lebih sederhana untuk
merayakannya bersama keluarga. Saat daging mulai banyak yang diterima, salah
satu cara keluarga saya merayakan momen Iduladha adalah dengan mengolah daging
bersama. Dan salah satu mengolah dagingnya adalah diolah menjadi sate.
Seperti
piknik tapi di rumah sendiri, kami berkumpul dan berbagi tugas untuk menyiapkan
bahan dan alat mengolah daging kambing menjadi sate. Ada yang menyiapkan arang
untuk membakar. Ada yang mencuci, memotong, dan menusuk daging, dan ada yang
menyiapkan bumbu satenya. Nuansa kebersamaan terasa bahagia dengan kami
menikmati bersama hidangan sate kambing.
Di tengah
makan sate kambing bersama keluarga, saya merenung. Betapa agama Islam sungguh
indah menciptakan momen kebersamaan seperti ini. Bersyukur karena kami
sekeluarga bisa menikmati daging kambing yang mungkin kami jarang
mengonsumsinya jika tidak ada momen-momen tertentu. Bahkan ketika di hari-hari
biasa ingin makan sate kambing yang dijual di warung, kami menyadari bahwa
harganya relatif mahal dan berpikir
ulang untuk membelinya. Namun, di momen Iduladha ini, saya merasakan kenikmatan
yang luar biasa dari sisi sosial.
Ya, inilah
cara sederhana keluarga saya merayakan Iduladha, dan mungkin juga banyak keluarga
lain di luar sana. Karena Iduladha bukan hanya tentang berkurban dari sisi
spiritual, tapi juga tentang berbagi kenikmatan dan menciptakan momen kebersamaan.
Selamat hari
raya Iduladha. 10 Dzulhijjah 1447 H.

Komentar